Ilustrasi bendera AS dan Iran. (Anadolu Agency)
Sekutu Eropa Khawatir Kesepakatan Cepat AS-Iran Dapat Picu Kebuntuan Teknis
Muhammad Reyhansyah • 20 April 2026 15:18
Washington: Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) di Eropa menyuarakan kekhawatiran bahwa tim negosiasi Washington akan cenderung mendorong tercapainya kesepakatan awal dengan Iran secara cepat, yang dinilai berisiko menghasilkan kompromi dangkal.
Para diplomat yang pernah terlibat dalam pembahasan dengan Iran menilai dorongan untuk meraih terobosan diplomatik dalam waktu singkat dapat memperkuat masalah mendasar, alih-alih menyelesaikannya.
“Kekhawatirannya bukan pada ada atau tidaknya kesepakatan, tetapi kemungkinan tercapainya kesepakatan awal yang buruk dan memicu persoalan berkepanjangan di tahap berikutnya,” ujar seorang diplomat senior Eropa, seperti dikutip AsiaOne, Senin, 20 April 2026.
Menurut mereka, kesepakatan awal yang terburu-buru, terutama terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi, berpotensi diikuti proses teknis yang panjang dan kompleks, yang dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump memiliki rekam jejak dalam mencapai kesepakatan yang menguntungkan.
“Presiden Trump memiliki rekam jejak yang terbukti dalam mencapai kesepakatan yang baik bagi Amerika Serikat dan rakyatnya,” ujar juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly.
Negosiasi Teknis yang Kompleks
Diplomat dari Prancis, Inggris, dan Jerman, yang telah terlibat dalam perundingan dengan Iran sejak 2003, menyatakan kekhawatiran atas minimnya keterlibatan mereka dalam proses terbaru.Ketiga negara tersebut bersama AS sebelumnya merumuskan kesepakatan pembatasan program nuklir Iran pada 2015, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebelum ditinggalkan oleh Trump pada 2018.
Setelah konflik udara selama beberapa pekan, AS dan Iran kembali membuka dialog di Islamabad awal bulan ini, dengan fokus pada pembatasan program nuklir sebagai imbalan keringanan ekonomi.
Namun, para diplomat menilai perbedaan pendekatan serta rendahnya tingkat kepercayaan di antara kedua pihak meningkatkan risiko lahirnya kesepakatan yang rapuh.
“Itu membutuhkan 12 tahun dan pekerjaan teknis yang sangat besar. Apakah masuk akal jika hal itu bisa diselesaikan dalam waktu singkat?” ujar Federica Mogherini.
Isu utama dalam pembahasan saat ini mencakup sekitar 440 kilogram uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen—tingkat yang secara teknis mendekati ambang penggunaan senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.
Sejumlah opsi tengah dibahas, termasuk penurunan tingkat pengayaan di dalam negeri dengan pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), atau pengiriman sebagian material ke luar negeri.
Namun, setiap opsi tersebut memerlukan kesepakatan rinci terkait verifikasi, transportasi, serta pengelolaan material yang terdampak konflik.
“Setiap klausul dalam isu nuklir dapat memicu sengketa baru,” ujar seorang diplomat Eropa.
Sanksi, Politik, dan Kepentingan Regional
Di sisi lain, jalur ekonomi dalam negosiasi berfokus pada pencabutan sanksi serta akses Iran terhadap aset yang dibekukan.Teheran disebut menginginkan akses terbatas dalam jangka pendek, sementara pencabutan sanksi secara luas kemungkinan memerlukan keterlibatan negara-negara Eropa.
Para pejabat menilai pendekatan Washington yang memisahkan kesepakatan prinsip dari implementasi teknis berisiko tidak selaras dengan dinamika politik di Iran.
“Negosiasi ini bukan transaksi sederhana. Ada tahapan, langkah timbal balik, dan kepentingan yang harus diseimbangkan,” ujar seorang diplomat regional.
Perang sebelumnya juga disebut memperkeras posisi Iran, yang kini menuntut jaminan keamanan setelah mengalami serangan dari AS dan Israel.
Di tingkat regional, negara-negara Teluk menginginkan isu rudal balistik dan jaringan proksi Iran turut dibahas, sementara Israel mendorong pembatasan maksimal terhadap kemampuan Teheran.
Sebaliknya, Iran memandang kemampuan militernya sebagai faktor penangkal strategis, sehingga tuntutan penghentian total dinilai tidak realistis tanpa jaminan keamanan.
Seorang pejabat pemerintahan Trump menyatakan bahwa garis merah Washington mencakup penghentian pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas utama, serta kerangka de-eskalasi yang lebih luas bersama sekutu regional.
Sementara itu, pejabat Eropa mengakui bahwa peran mereka dalam proses saat ini semakin terbatas, meski menekankan pentingnya pengalaman panjang dalam isu tersebut.
“Tidak ada cukup keahlian dalam tim AS saat ini. Kami telah menangani isu ini selama dua dekade,” ujar seorang pejabat Eropa.
Gedung Putih menyatakan bahwa pejabat dari Dewan Keamanan Nasional, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Pertahanan tetap terlibat aktif dalam negosiasi di Islamabad.
Baca juga: Menlu Turki Sebut Negosiasi AS-Iran di Pakistan Masuki Tahap Kritis