M Sholahadhin Azhar • 1 October 2025 14:11
Jakarta: Fakta baik dari kehadiran makan bergizi gratis (MBG), dinilai tak terbantahkan. Banyak anak-anak menerima manfaat dari program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu.
"Upaya pemerintah menurunkan prevalensi stunting nasional tahun 2024 yang masih berada di angka 19,8 persen dari populasi balita/sekitar 4,48 juta anak," kata pakar komunikasi Universitas Telkom, Bandung, Jawa Barat, Muhammad Sufyan Abd, dalam keterangan yang dikutip Rabu, 1 Oktober 2025.
Hal tersebut diungkapnya, tanpa bermaksud meremehkan korban insiden keracunan MBG itu. Menurut dia, makan gratis bergizi memberi manfaat nyata bagi siswa, bahkan guru, staf tata usaha, dan Satpam sekolah.
Apalagi, fakta dari UNICEF bahwa dua dari lima anak di bawah usia lima tahun tidak menerima jumlah kelompok makanan yang direkomendasikan. Mirisnya lagi, lebih dari 95 persen anak serta remaja tidak mengonsumsi buah dan sayur sesuai anjuran Badan Pendidikan United Nations tersebut. Sehingga, rogram MBG harus terus diupayakan dengan perbaikan tata kelola yang benar.
Manfaat itu juga yang dirasakan anak-anak yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Patriot di Kelurahan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Sekolah yang dinaungi Yayasan Ganda Saputra Mamun itu menerima 113 paket MBG yang selalu jadi rebutan.
Hari ini, puluhan anak-anak berseragam SD, SMP, dan SMA berlarian menghampiri mobil bertuliskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Para pelajar dibimbing guru-guru turut membantu petugas membawakan ompreng makanan dari kendaraan berlogo SPPG menuju ruang-ruang kelas sekolah mereka. Setibanya di sekolah ompreng makanan itu dikumpulkan di atas meja untuk disantap bersama pada saat jam makan.
Menjelang jam makan, seorang guru perempuan bernama Nita nampak menuntun siswi berseragam merah putih menuju tempat cuci tangan. Guru itu menuntun anak yang meraba membuka keran air dan mengarahkan tangan mungilnya di bawah keran air dan mulai mencuci tangannya. Setelah bersih, tangan mungil itu meraba keran dan memutar untuk menutup aliran air. Beberapa anak juga dibimbing menuju wastafel dan bisa mencuci tangan mereka sendiri meskipun kadang-kadang tertawa riang saat mencipratkan air ke teman mereka.
Dibimbing seorang guru, mereka berdoa dan setelah itu mereka makan dengan tertib. Meski demikian ada beberapa anak yang terus bergerak aktif dan guru-guru terus mengawasi dan mengarahkan untuk menghabiskan makanan mereka.
Sementara itu, ibu guru Nita terlihat terus mendampingi seorang siswa SD yang sangat aktif. Siswa tersebut bernama Raka (11). Raka yang mengidap autis hyperaktif itu dengan lahap menyantap hidangan MBG yang hari itu menunya terdiri dari nasi putih, ayam dan tahu pepes, sayur capcay wortel dan brokoli. Menu itu juga ditambah buah kelengkeng.
"Enak," kata Raka saat menghabiskan makanannya dengan didampingi Nita, guru pendampingnya.
Kepala SLB Pendidikan Patriot Eulis Siti Hasanah mengatakan MBG sangat membantu pemenuhan gizi anak-anak berkebutuhan khusus. “Alhamdulillah dengan adanya MBG sangat membantu meningkatkan gizi seimbang. Anak-anak senang dan bahagia. Anak-anak berkebutuhan khusus sangat membutuhkan asupan gizi seimbang untuk pertumbuhan mereka,” kata Eulis Siti Hasanah.
Menurut Eulis, MBG sangat membantu mengurangi beban keluarga karena hampir semua anak-anak berkebutuhan khusus yang bersekolah dengan didampingi ibunya. “Ibunya nggak sempat masak di rumah karena mendampingi anak-anaknya bersekolah. Jadi mengurangi beban keluarga,” kata Eulis yang dalam wawancara itu didampingi ketua Yayasan Ganda Saputra Makmun, Dadan Daruslan yang turut memantau langsung pembagian MBG di SLB Patriot.
Eulis mengatakan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah itu terdiri dari pelajar SD sebanyak 40 siswa, pelajar SMP 28 siswa, dan pelajar SMA sebanyak 45 siswa. Mereka adalah anak berkebutuhan khusus dengan kategori tuna rungu, tuna netra, tuna grahita, tuna daksa, autis, dan downsyndrome.
Siswa menerima MBG/Istimewa
“Alhamdulillah MBG di sekolah ini yang berjalan sejak bulan Juni (2025) lalu ini aman. Anak-anak senang dan menikmati makanan, katanya enak dan makanan selalu habis,” ujar Eulis.
SLB Patriot yang berada di bawa naungan Yayasan Pendidikan Patriot telah menjalankan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus itu sejak 30 tahun lalu. Eulis mengatakan ada 14 pendidik dan tenaga pendidik yang mengajar anak-anak berkebutuhan khusus ini sesuai kompetensi mereka
Anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak istimewa. Mereka adalah bagian dari masa depan Indonesia. Masa depan mereka sangat ditentukan oleh bimbingan pembelajaran yang tepat dan asupan gizi yang baik.