Tim 7 Ekspedisi Patriot UI melatih tenaga kesehatan di Teluk Wondama menggunakan sistem Rekam Medis Elektronik. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia)
Dari Catatan Kertas ke Digital, TEP UI Bantu Permudah Rujukan Pasien di Teluk Wondama
Patrick Pinaria • 4 October 2026 14:11
Teluk Wondama: Merujuk pasien melalui jalur laut menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan di Teluk Wondama. Di tengah keterbatasan jaringan internet dan jauhnya jarak antarfasilitas kesehatan, informasi pasien perlu dicatat dengan baik agar pelayanan dapat berlanjut di tempat rujukan.
Untuk membantu menjawab kebutuhan tersebut, Tim 7 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) melatih tenaga kesehatan setempat menggunakan Rekam Medis Elektronik (RME). Pencatatan digital ini diharapkan dapat membantu menata data pasien, mengurangi risiko catatan rusak atau hilang, serta mendukung proses rujukan.
Siti Harlina, S.Kep., Ns., tenaga kesehatan Puskesmas Windesi, merasakan manfaat pelatihan tersebut. Baginya, materi yang diberikan mudah dipahami dan sesuai dengan tantangan pelayanan di wilayah pesisir dan kepulauan.
"Materi disampaikan dengan sangat jelas, runut, dan mudah dipahami, bahkan bagi kami yang bertugas di wilayah dengan keterbatasan sinyal dan harus merujuk pasien lewat jalur laut seperti saya hari ini," kata Siti dalam keterangannya, Minggu, 4 Oktober 2026.
Pelatihan itu juga membantunya memahami pentingnya pencatatan digital untuk menjaga kesinambungan pelayanan pasien.

Tenaga kesehatan mengikuti kegiatan pelayanan di Teluk Wondama dalam rangka mendukung peningkatan layanan kesehatan masyarakat. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia)
"Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi lebih memahami pentingnya transformasi digital dalam pelayanan kesehatan. Pelayanan menjadi lebih tertib, pencatatan lebih akurat, dan yang paling penting data pasien menjadi lebih aman serta memudahkan proses rujukan antarfasilitas kesehatan," lanjutnya.
Ketua Tim 7 TEP UI, Dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS, MS, Sp.KKLP, Ph.D., menjelaskan pelatihan berangkat dari persoalan yang ditemukan di lapangan. Pencatatan rekam medis di rumah sakit dan puskesmas setempat masih dilakukan secara manual sehingga rentan hilang, rusak, atau tercatat ganda.
"Kalau manual, rekam medis bisa rusak, bisa hilang, dan datanya tidak bisa dipanggil lagi. Ada juga risiko satu orang punya beberapa rekam medis," kata Trevino, Selasa, 22 September 2026.
Pelatihan tahap pertama diikuti sekitar 20 tenaga kesehatan. Pada tahap berikutnya, TEP UI berencana melatih kader kesehatan, termasuk di sekolah dan rumah ibadah, untuk membantu menjangkau warga yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Namun, pelatihan perlu diikuti pendampingan dan dukungan infrastruktur. Siti berharap penguatan jaringan internet di wilayah pesisir dan kepulauan dapat berjalan beriringan dengan penerapan RME.
"Harapan saya ke depannya, semoga program pelatihan seperti ini dapat terus berkelanjutan dengan pendampingan yang konsisten. Serta adanya dukungan penguatan infrastruktur jaringan di wilayah pesisir dan kepulauan, agar implementasi RME dapat berjalan optimal dan merata hingga ke Puskesmas di ujung Papua seperti tempat kami bertugas," ujarnya.

Tim 7 Ekspedisi Patriot UI memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan di Teluk Wondama mengenai digitalisasi layanan kesehatan. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia)
Upaya TEP UI tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai digitalisasi layanan publik agar semakin mudah dijangkau masyarakat.
"Pemerintah harus datang kepada rakyat melalui teknologi," ujar Presiden Prabowo dalam taklimat Sidang Kabinet Paripurna, Senin, 20 Juli 2026.
Melalui pelatihan dan pendampingan ini, TEP UI berupaya menghadirkan perubahan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan dan masyarakat di Teluk Wondama. Semangat mendampingi warga hingga ke pelosok tersebut juga ditegaskan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.
"Transmigrasi bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi," kata Menteri Iftitah dalam keterangannya, Minggu, 3 Mei 2026.