Bahaya Polutan Karhutla, BMKG Sumsel Larang Warga Konsumsi Air Hujan Pertama

Hujan mengguyur Kota Palembang pada Sabtu (24/10). ANTARA/Edo Purmana

Bahaya Polutan Karhutla, BMKG Sumsel Larang Warga Konsumsi Air Hujan Pertama

Lukman Diah Sari • 26 October 2026 17:54

Palembang: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di Sumatra Selatan untuk tidak mengonsumsi air hujan, terutama di wilayah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis menerangkan, hujan pertama setelah kemarau panjang berpotensi membawa partikel debu dan abu sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sebelumnya terakumulasi di atmosfer ke permukaan tanah.

"Setelah lebih dari tiga bulan dikepung kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kota Palembang dan sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Selatan diguyur hujan sejak Sabtu, 24 Oktober 2026," ujar Wandayantolis di Palembang, Senin, 26 Oktober 2026, melansir Antara. 

Wilayah yang mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sedang meliputi Kota Palembang, Kabupaten Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Komering Ulu Selatan, Empat Lawang, Musi Rawas, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), serta Kota Pagar Alam dan Prabumulih.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa hujan pertama setelah kemarau panjang tidak serta-merta berbahaya karena risiko bergantung pada kondisi lingkungan dan kandungan polutan di udara setempat.

"Selama kemarau, debu, partikulat, dan polutan dari pembakaran, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan dapat terakumulasi di atmosfer yang sebagian partikel tersebut dapat terbawa bersama air hujan ke permukaan,” ungkapnya.

Petugas Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumsel. ANTARA/HO-Manggala Agni


Wandayantolis menambahkan, air hujan secara alami memiliki tingkat keasaman ringan akibat interaksi dengan karbondioksida di atmosfer. Sementara itu, tingkat keasaman dan kandungan pencemar dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi lingkungan serta kualitas udara di wilayah masing-masing.

Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah terdampak asap diimbau menghindari kontak langsung dengan air hujan jika dikhawatirkan tercemar, terutama tidak untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai.

"Kami mengimbau warga tidak eforia dengan hujan pertama ini karena kualitasnya buruk mengandung banyak polutan yang ada di atmosfer yang masuk selama kemarau," ujar dia.

(Lukman Diah Sari)