Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman. (Anadolu Agency)
Menteri Energi Arab Saudi: Keamanan Energi Global Hadapi Ujian Nyata
Willy Haryono • 12 October 2026 22:00
Riyadh: Keamanan energi global menghadapi “ujian nyata” di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, ujar Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman pada Senin, 12 Oktober 2026.
Ia menegaskan Arab Saudi telah menyiapkan berbagai rencana untuk menjaga keamanan pasokan energi sebelum krisis terjadi.
“Energi global saat ini menghadapi ujian nyata, dan kami telah menyiapkan rencana untuk menjaga keamanan energi sebelum krisis terjadi,” kata Pangeran Abdulaziz dalam Kongres Energi WPC ke-25 di Riyadh.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidatonya di pembukaan resmi kongres yang berlangsung selama empat hari. Arab Saudi menjadi tuan rumah acara tersebut untuk pertama kalinya.
Pangeran Abdulaziz mengatakan Arab Saudi berkomitmen untuk tetap menjadi salah satu pilar utama keamanan energi global sembari menjalankan strategi energi jangka panjang.
“Pandangan kami tertuju pada apa yang akan membawa kami menuju masa depan—masa depan putra-putri kami serta generasi setelah mereka,” ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Keamanan Energi Tak Bisa Dianggap Remeh
Menurut Pangeran Abdulaziz, Riyadh telah menjadi pusat pembahasan mengenai keamanan energi. Ia menegaskan kebijakan energi Arab Saudi akan tetap berfokus pada tujuan jangka panjang, bukan tekanan jangka pendek.Pangeran Abdulaziz mengatakan Arab Saudi akan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dan terus menjalankan rencana serta komitmen jangka panjangnya.
“Perkembangan terkini di kawasan dan Kerajaan telah memperkuat kenyataan bahwa keamanan energi tidak bisa dianggap remeh, terutama ketika jalur pasokan berada di bawah tekanan dan infrastruktur menjadi sasaran,” katanya.
Ia mengatakan Arab Saudi telah berinvestasi selama puluhan tahun dalam infrastruktur, kapasitas cadangan, penyimpanan, jalur ekspor alternatif, teknologi, rantai pasokan domestik, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Ketahanan harus dibangun sebelum krisis terjadi,” tegasnya.
Pangeran Abdulaziz menambahkan, lokalisasi tidak boleh hanya dipandang sebagai tujuan ekonomi, tetapi juga sebagai “kemampuan strategis yang mendukung keberlangsungan dan pemulihan bisnis ketika rantai pasokan internasional terganggu.”
Pasokan Energi Global
Menurutnya, ketahanan sistem energi tidak hanya diukur dari kapasitas produksi cadangan, jaringan pipa, dan kapasitas pembangkit listrik. Ketahanan juga diukur dari “kemampuan untuk mempertahankan, memperbaiki, mengalihkan rute, mengganti, memulihkan, dan terus menyalurkan pasokan di bawah tekanan.”Ia mengatakan kemampuan Arab Saudi untuk menghadapi gangguan dan memulihkan pasokan turut berkontribusi terhadap keandalan pasokan energi internasional sekaligus memperkuat perannya “sebagai mitra tepercaya dalam perekonomian global.”
“Tidak akan ada masa depan energi bagi semua tanpa keamanan energi bagi semua,” katanya. Ia menekankan keamanan energi dan transformasi sektor energi harus berjalan beriringan.
Kongres tersebut mengusung tema “Pathways to an Energy Future for All” dan berlangsung pada 11-15 Oktober di Riyadh.
Menurut data Kementerian Energi Arab Saudi, lebih dari 25.000 peserta diperkirakan menghadiri acara tersebut, termasuk lebih dari 100 menteri dan hampir 500 CEO dari 80 negara.
Kongres digelar di tengah meningkatnya permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Dalam beberapa hari terakhir, bandara serta sejumlah fasilitas sipil dan energi menjadi sasaran serangan.
Pelayaran melalui Selat Hormuz juga mengalami gangguan setelah Iran memberlakukan pembatasan terhadap transit kapal pada April 2026, menyusul perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari tahun yang sama.
Baca juga: RI Peringkat Dua Negara Tahan Guncangan Energi Global Versi JP Morgan