Macron Desak Pemulihan Ketertiban usai Demonstrasi Berujung Kerusuhan di Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: Anadolu

Macron Desak Pemulihan Ketertiban usai Demonstrasi Berujung Kerusuhan di Prancis

Muhammad Reyhansyah • 19 October 2026 08:58

Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan “ketenangan dan ketertiban” setelah demonstrasi besar-besaran pada Sabtu, 17 Oktober 2026 berujung pada kerusuhan dan penjarahan.

Sejumlah gangguan keamanan masih berlanjut di Paris pada Minggu. Dalam pidato nasional dari Istana Élysée, Macron memperingatkan para pelaku agar tidak memperburuk situasi. Ia mengatakan masyarakat sama-sama merasakan kemarahan dan rasa malu atas peristiwa tersebut.

Sekitar 550.000 demonstran turun ke jalan dalam aksi yang sebagian besar berlangsung damai. Mereka memprotes kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup, serta memburuknya layanan publik, termasuk pendidikan.

Macron menegaskan perlunya membedakan tuntutan demonstran yang sah dari tindakan pihak-pihak yang merusak dan menjarah.

“Tidak ada yang membenarkan” kekerasan yang tidak terkendali, kata Macron, dikutip dari BBC, Senin, 19 Oktober 2026. 

Ia menambahkan bahwa para pelaku akan menghadapi proses hukum. Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 2.400 orang telah ditangkap.

Kerusuhan Meluas ke Sejumlah Kota

Kelompok perusuh, beberapa di antaranya mengenakan pakaian hitam, masker, dan penutup wajah, juga beraksi di Paris, Marseille, serta kota-kota lainnya. Sejumlah pelaku membakar mobil dan bangunan.

Pada Minggu, penjarahan dan bentrokan dengan polisi masih terjadi dalam skala lebih kecil di sejumlah wilayah Paris dan Lyon.

Menurut kantor berita AFP, gas air mata dan granat kejut ditembakkan ke arah ratusan orang di Paris. Botol dan batu kembali dilemparkan ke arah polisi.

Dampak kerusuhan juga terlihat di Limoges. Balai kota berhias dari abad ke-19 di kota tersebut hangus terbakar akibat kebakaran yang dipicu perusuh pada Sabtu. Menara jam dan atap bangunan runtuh ketika api melalap gedung tersebut.

Seorang warga bernama Annèyse, yang berbicara di dekat bangunan yang rusak, mengaku sangat terpukul.

“Merusak bangunan bersejarah hanya karena marah kepada pemerintah adalah tindakan egois. Menurut saya, hal itu merugikan semua orang,” katanya.

Warga lain bernama Gerrard menyebut kejadian tersebut mengerikan dan sulit dipercaya. Ia mengatakan pemulihan bangunan itu ke kondisi semula akan membutuhkan waktu lama.

Di Paris, para pemilik toko terlihat memunguti pecahan kaca berukuran besar pada Minggu pagi, sementara truk sampah membersihkan puing-puing di sejumlah jalan utama. Penjarahan juga dilaporkan terjadi secara luas di Paris, Marseille, Lille, dan wilayah lainnya.

Macron mengatakan para prefek dan wali kota setempat akan menyusun langkah-langkah untuk melindungi toko serta gedung-gedung publik.


Pemerintah Janjikan Transparansi

Macron juga menjanjikan “transparansi penuh” terkait tindakan polisi selama demonstrasi.

Sepanjang akhir pekan, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Petugas antihuru-hara juga terlihat memukul sejumlah orang dengan tongkat di beberapa lokasi.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan sekitar 1.000 personel polisi terluka pada Sabtu, termasuk tujuh orang yang mengalami luka serius.

Demonstrasi mahasiswa yang dimulai bulan lalu meningkat tajam pada Sabtu setelah anggota serikat pekerja dan kelompok lain yang menentang pemerintah ikut bergabung.

Perpecahan Politik Mengemuka

Respons para tokoh politik mencerminkan perpecahan politik yang mendalam di Prancis menjelang pemilu pada April, yang dapat mempertemukan kelompok sayap kanan ekstrem dan sayap kiri ekstrem.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengatakan demonstrasi merupakan hak fundamental. Namun, ia menuduh ribuan orang dari kelompok sayap kiri ekstrem melakukan tindakan yang melampaui batas dengan menargetkan gedung publik dan menghadapi polisi.

Menurut Nuñez, kelompok tersebut kemudian bergabung dengan para pelaku kriminal yang menjarah dan merusak banyak tempat usaha di sejumlah kota.

Pemimpin partai sayap kiri La France Insoumise, Jean-Luc Mélenchon, mengkritik keras Nuñez dan pimpinan kepolisian melalui media sosial. Ia menilai keduanya menunjukkan ketidakmampuan dalam menangani demonstrasi dan menyebut mereka sebagai “spesialis kekacauan terorganisasi”.

Sementara itu, pemimpin partai sayap kanan National Rally, Marine Le Pen, mengecam tindakan yang menurutnya mengeksploitasi kemarahan masyarakat oleh kekuatan politik yang mendorong kekerasan.

(Fajar Nugraha)