Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah
Laporan Insiden AI Meningkat 2,7%, Penipuan dan Serangan Siber Jadi Sorotan
Eko Nordiansyah • 21 October 2026 16:02
Jakarta: Laporan insiden terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) meningkat 2,7 persen, terutama yang berkaitan dengan penipuan dan serangan siber. Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menunjukkan 75 persen negara anggota belum pernah mengevaluasi apakah investasi teknologi digital dan AI telah menghasilkan dampak sesuai harapan.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini mengatakan perkembangan AI perlu diikuti dengan pemanfaatan teknologi yang memberikan manfaat jelas dan terukur. Menurutnya, adopsi AI tidak seharusnya hanya dilakukan karena teknologi tersebut sedang berkembang pesat.
"Insiden AI ini meningkat 2,7 persen terutama untuk laporan penipuan dan serangan siber. Bahkan, 75 persen dari negara OECD ternyata belum pernah mengevaluasi apakah investasi teknologi digital dan AI itu menghasilkan dampak yang diharapkan," ucap Rini dalam acara Peruri Digital Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Investasi AI perlu memberikan manfaat terukur
Rini menekankan pemanfaatan AI perlu berorientasi pada manfaat yang jelas dan dapat diukur. Hal ini menjadi penting agar adopsi teknologi tidak hanya mengikuti perkembangan, tetapi juga menghasilkan dampak sesuai dengan tujuan yang diharapkan."AI itu tidak boleh sekedar menjadi teknologi yang kita adopsi karena memang sedang berkembang pesat, tetapi AI itu harus memberikan manfaat. Harus memberikan manfaat yang jelas, harus memberikan manfaat yang terukur," ucap dia.
Ia juga menegaskan AI tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai alat. Menurutnya, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai mitra kerja manusia, dengan tetap mempertahankan pengawasan manusia dalam penggunaannya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya memastikan AI digunakan dengan manfaat yang jelas sekaligus tetap berada dalam pengawasan manusia. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi ini tidak hanya berfokus pada adopsinya, tetapi juga pada hasil yang dapat diukur. (Tiaranissa Juliansyah)