Ilustrasi migas. Foto- Freepik
Langkah Pertamina Optimalisasi Sumur Tua Dinilai Tepat
Achmad Zulfikar Fazli • 14 October 2026 16:52
Jakarta: Langkah PT Pertamina Hulu Energi sebagai Subholding Upstream Pertamina mengelola seluruh wilayah kerja (WK) migas dinilai tepat. PHE tidak hanya melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumur baru, tetapi juga mencari peluang melalui optimalisasi sumur tua untuk mendukung peningkatan produksi.
“Saya kira PHE terus berbenah dalam mengelola seluruh wilayah kerja, termasuk untuk meningkatkan produksi. Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua,” kata pakar ketahanan energi Universitas Indonesia, Ali Ahmudi Achyak, dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Oktober 2026.
Menurut dia, optimalisasi sumur tua bisa menjadi peluang untuk mendukung peningkatan produksi migas demi ketahanan energi nasional. Hal ini tak terlepas dari keandalan manajemen hulu migas dan penguasaan teknologi PHE yang terus membaik.
“Kinerja PHE menunjukkan tren yang positif, didukung oleh penguasaan berbagai teknologi, termasuk enhanced oil recovery (EOR). Hal ini mencerminkan peningkatan kapabilitas PHE baik dari sisi teknologi maupun tata kelola dan manajemen,” ujar Ali.
Menurut Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) UI itu, optimalisasi potensi-potensi sumur tua menjadi peluang dalam mendukung kinerja PHE. Namun, dengan tetap melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur baru, serta pemberdayaan sumur masyarakat.
“Sebagai upaya pencapaian target PHE, hal itu memang baik,” ucap Ali.

Pertamina mempercepat produksi migas guna mendukung kemandirian energi nasional. Foto: dok Pertamina.
Ali mengatakan eksploitasi sumur tua tidak semudah sumur-sumur migas baru. Apalagi, tingkat produksi dari optimalisasi sumur tua jauh lebih rendah daripada sumur baru.
“Kalau sisi keekonomian, jika menggunakan teknologi lama dengan produksi yang semakin menurun, tentu menjadi tidak ekonomis,” kata Ali.
Ali menjelaskan jika memakai teknologi baru, bisa mengurangi komponen biaya SDM. Sehingga, nilainya bisa dianggap ekonomis untuk sumur-sumur yang sudah tidak ekonomis.
Apalagi, kata dia, untuk mengurangi biaya, pengelolaan bisa diserahkan ke pemerintah daerah, seperti Riau dan Sumatra Selatan.
“Hasilnya dijual juga ke Pertamina sehingga dijadikan sebagai bagian dari lifting migas. Ini adalah upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apapun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi,” tegas Ali.
Terkait upaya menjaga produktivitas dan keberlanjutan pengelolaan sumur tua, Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade mengapresiasi kinerja PHE Offshore Northwest Java (PHE ONWJ). Hal ini disampaikan Andre usai memimpin Tim Kunspek Komisi VI saat kunjungan lapangan dan melihat langsung kondisi dan kinerja sumur yang beroperasi sejak 1969 di Perairan Utara Laut Jawa, Jawa Barat.
Menurut Andre, hasil kunjungan lapangan menunjukkan kinerja PHE ONWJ cukup baik. Meski merupakan sumur tua dan telah mengalami proses peralihan pengelolaan, produktivitasnya masih dapat dipertahankan.