Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. (Anadolu Agency)
Rubio Desak Rusia Transparan soal Insiden Laboratorium Biologi di Siberia
Willy Haryono • 6 October 2026 19:05
Reykjavik: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mendesak Rusia memberikan transparansi penuh dan membagikan informasi terperinci kepada komunitas internasional terkait insiden laboratorium biologi yang menewaskan seorang peneliti di Siberia.
“Saya kira Rusia sudah seharusnya membagikan lebih banyak informasi kepada dunia,” kata Rubio kepada wartawan dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Islandia Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir di Reykjavik, Selasa, 6 Oktober 2026.
“Itulah yang seharusnya mereka lakukan. Itulah yang kami harapkan akan mereka lakukan,” sambungnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Rubio mengatakan setiap kali terjadi infeksi di fasilitas khusus di mana pun di dunia, kekhawatiran secara alami akan muncul. Ia merujuk pada pelajaran dari pandemi Covid-19.
Namun, Rubio mengingatkan agar tidak menarik kesimpulan yang tidak didukung bukti mengenai kemungkinan insiden tersebut melibatkan patogen yang sengaja diubah.
Menurut dia, spekulasi tanpa informasi yang komprehensif akan menjadi tindakan “ceroboh”. Ia menambahkan AS belum dapat menentukan apakah insiden tersebut merupakan kejadian kecil atau bagian dari sesuatu yang lebih luas.
Rubio mengatakan sejumlah lembaga di dalam negeri dan internasional memantau perkembangan tersebut “dari jam ke jam” agar pemerintah negara-negara mitra dapat merespons secara tepat setelah informasi yang telah terverifikasi tersedia.
Kematian di Laboratorium Siberia
Seruan diplomatik tersebut disampaikan setelah muncul laporan mengenai seorang peneliti perempuan berusia 28 tahun di Institut Penelitian Antipes, Irkutsk, yang meninggal setelah mengalami “pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui”, menurut kantor berita pemerintah Rusia, Tass.Media lokal sebelumnya melaporkan bahwa kematian tersebut diduga berkaitan dengan paparan tidak sengaja di laboratorium. Laporan itu menyebut insiden tersebut mendorong pemberlakuan karantina di rumah sakit dan aturan penggunaan masker di sejumlah pabrik di Shelekhov, wilayah sekitar lokasi kejadian.
Namun, badan pengawas perlindungan konsumen Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan situasi epidemiologis tetap stabil.
Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin mengatakan bahwa Washington memantau situasi tersebut secara dekat dan tetap siap membantu Moskow.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyambut tawaran tersebut, dengan mengatakan tawaran bantuan timbal balik selalu merupakan hal yang positif.
Baca juga: WHO: Risiko Wabah Pes di Rusia Rendah, Sangat Rendah di Wilayah Eropa