Migas Non-Konvensional Jadi Harapan Baru Dongkrak Produksi Minyak Indonesia

Koordinator Pengembangan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Ditjen Migas Kementerian ESDM Dwi Adi Nugroho. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari

Migas Non-Konvensional Jadi Harapan Baru Dongkrak Produksi Minyak Indonesia

Andika Fauzan Azhari • 27 October 2026 20:30

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) sebagai langkah penting yang harus dihidupkan kembali (reborn). Hal ini diperlukan untuk menutupi kesenjangan antara tingkat produksi minyak nasional dan tingginya konsumsi energi di dalam negeri.  

Koordinator Pengembangan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Ditjen Migas Kementerian ESDM Dwi Adi Nugroho mengatakan produksi minyak Indonesia saat ini berada di angka sekitar 600 ribu barel per hari, sementara tingkat konsumsi domestik tercatat dua kali lipat lebih tinggi dari jumlah produksi tersebut.  

"Sebagai kita tahu produksi minyak Indonesia hanya 600 ribu barel per hari saat ini dan kita memiliki celah yang harus kita penuhi karena konsumsi kita kemungkinan dua kali dari produksi," ujar Dwi Adi Nugroho dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.  

Ia menjelaskan, untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Indonesia perlu merujuk pada revolusi migas non konvensional seperti yang dilakukan di Amerika Serikat. Langkah ini menuntut kegiatan eksplorasi yang lebih mendalam, pengeboran sumur lateral yang lebih panjang, serta penerapan teknik peretasan (fracking) agar cadangan minyak dapat diekstrak secara maksimal ke permukaan.  


(Ilustrasi. Foto: Dok SKK Migas)

Potensi besar dan strategi eksplorasi

Berdasarkan kajian dari berbagai lembaga seperti EIA, Badan Geologi, hingga studi di wilayah Rokan, potensi sumber daya migas non konvensional di Indonesia tergolong sangat besar, bahkan Blok Rokan saja tercatat memiliki potensi oil in place mencapai 11 miliar barel.  

Pemerintah terus mendorong para kontraktor untuk melakukan evaluasi data dan memperluas eksplorasi di area terbuka maupun wilayah kerja yang sudah ada guna menarik minat investasi baru.

"Kita harus mengeksplorasi lebih banyak minyak dan kita harus masuk lebih dalam dan mengebor lebih banyak lateral panjang dan meretaskan minyak sehingga kita bisa mengekstrak ke permukaan," tambah Dwi.

(Eko Nordiansyah)