Prakirawan memantau pergerakan angin dan cuaca melalui layar monitor dari pemantauan citra satelit di Kantor BMKG Wilayah IV Makassar, Jalan Prof Basalamah, Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir.
BMKG: Hujan di Malino Gowa Dipicu Pembentukan Awan dari Laut
Whisnu Mardiansyah • 23 October 2026 21:57
Makassar: Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mulai terdeteksi di sejumlah wilayah dataran tinggi Sulawesi Selatan, termasuk kawasan wisata Malino, Kabupaten Gowa, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Hujan tersebut terjadi ketika peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan masih berlangsung dan belum merata di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Staf Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Farid, mengatakan pantauan radar menunjukkan hujan terjadi di sebagian wilayah Gowa, Maros, dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Curah hujan terpantau terutama di kawasan dataran tinggi.
"Terdeteksi di radar BMKG, hujan di sebagian wilayah Gowa, Maros, Pangkep. Umumnya di daerah dataran tingginya seperti Malino, Gowa," kata Farid saat dikonfirmasi di Makassar, seperti dilansir Antara, Jumat, 23 Oktober 2026.
Farid juga membenarkan hujan sempat mengguyur kawasan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Hujan tersebut menjadi perhatian setelah rekaman video yang diunggah warga beredar luas di media sosial. Meski demikian, hujan tidak turun secara merata di seluruh kawasan tersebut dan berlangsung relatif singkat.
Menurut Farid, hujan di dataran tinggi Malino berkaitan dengan pembentukan awan yang berasal dari wilayah laut. Pergerakan awan menuju daratan serta kondisi atmosfer di kawasan yang lebih tinggi turut memengaruhi terbentuknya hujan.
"Hujan memang potensi turun di dataran tinggi seperti Malino. Hujan yang terjadi di Malino imbas pembentukan awan dari laut," kata Farid menjelaskan.
Baca Juga :
Karhutla di Jawa Timur Capai 11.449 Hektare
Ia menerangkan, awan yang terbentuk di laut dapat bergerak menuju daratan. Ketika mencapai wilayah dengan ketinggian tertentu, awan tersebut berpotensi menghasilkan hujan di kawasan dataran tinggi.
"Biasanya pembentukan awan itu di laut dan terbawa ke daratan, karena kenaikan ketinggian, awan akan punah menjadi hujan di dataran tinggi. Ada hujan sangat ringan di tanggal 17 Oktober lalu, dan hari ini (hujan) yang lumayan lebat," tuturnya.
Kendati hujan mulai terdeteksi di sejumlah kawasan, Farid menyebut peralihan musim kemarau ke musim hujan di Sulawesi Selatan masih berlangsung. Berdasarkan perkiraan yang disampaikannya, musim hujan diperkirakan mulai masuk pada Desember 2026.
Dalam siaran persnya, BMKG menyampaikan minimnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Kondisi tersebut berlangsung di tengah pengaruh El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Selama 10 hari terakhir, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak terpantau di Kalimantan Tengah, yakni 3.794 titik. Sumatera Selatan menempati urutan berikutnya dengan 1.595 titik, disusul Papua Selatan sebanyak 1.516 titik.

Ilustrasi hujan
BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
Meski demikian, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem tetap terjadi di sejumlah daerah pada periode 19–21 Oktober 2026. Curah hujan harian tertinggi yang dicatat dalam siaran pers tersebut meliputi Sumatera Utara sebesar 190,6 milimeter, Sumatera Barat 130,7 milimeter, Aceh 119,0 milimeter, Kalimantan Barat 83,0 milimeter, dan Papua Tengah 78 milimeter.
BMKG mengaitkan kejadian hujan tersebut dengan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), perlambatan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat. Faktor-faktor tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif, khususnya di Sumatera bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.
Sementara itu, prakiraan curah hujan untuk dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan kategori rendah hingga menengah, dengan kisaran 0–150 milimeter per dasarian.
Kondisi tersebut memperlihatkan potensi hujan di sejumlah daerah dapat muncul di tengah peralihan musim yang belum merata. Masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini BMKG sesuai wilayah masing-masing.