Lomba makan kerupuk HUT RI. (Sinta Khaerun Nisa/Wikimedia Commons)
Sejarah Lomba 17 Agustus, Balap Karung, Makan Kerupuk dan Panjat Pinang
Riza Aslam Khaeron • 6 August 2026 17:33
Jakarta: Memasuki bulan Agustus, masyarakat Indonesia kembali bersiap memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, yang tahun ini memasuki usia ke-81 sejak diproklamasikan pada 1945.
Secara tradisi, perayaan momen bersejarah ini selalu disambut meriah dengan berbagai perlombaan khas di tengah masyarakat, seperti balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, dan beragam permainan seru lainnya.
Namun, bagaimana sebenarnya sejarah dan asal-usul dari munculnya lomba-lomba khas 17 Agustusan tersebut? Berikut penjelasannya.
Sejarah Lomba 17 Agustus

Lomba balap karung di Sumatra Timur tahun 1919-1926. (Dok. Museum Dunia Amsterdarm/Wikimedia Commons)
Menurut sejarawan JJ Rizal, tradisi perlombaan 17 Agustusan mulai marak digelar pada era 1950-an, tepatnya saat peringatan HUT ke-5 Republik Indonesia.
Tahun 1950 sendiri menjadi momen krusial dalam sejarah bangsa. Setelah melalui masa revolusi fisik dan dinamika Negara Republik Indonesia Serikat (RIS), Indonesia resmi kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950.
Meski demikian, hasil penelusuran menunjukkan bahwa sejumlah daerah sebenarnya telah mengadakan perlombaan peringatan HUT RI sebelum 1950.
Sejarawan lokal Ayuhanafiq mencatat bahwa di Mojokerto, Jawa Timur, masyarakat telah menggelar ajang adu kreasi, seperti lomba membuat poster bertema perjuangan dan lomba melukis, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Gajah Mada pada 17 Agustus 1946.
Bentuk perayaan pada awal kemerdekaan tersebut berbeda dari perayaan modern yang identik dengan panjat pinang atau makan kerupuk. Berdasarkan Daftar Arsip Foto Kementerian Penerangan Wilayah Kalimantan Barat tahun 1950–1951, Kota Pontianak pada HUT RI tahun 1951 menggelar perlombaan menghias perahu motor (motorboat) dan lomba dayung.
Sementara itu, di Medan pada tahun 1956, masyarakat dilaporkan merayakan HUT RI dengan permainan yang mulai mirip seperti sekarang, antara lain lomba tarik tambang dan pertunjukan tarian piring.
Namun, beberapa jenis lomba yang menjadi ciri khas perayaan kemerdekaan saat ini sebenarnya sudah dikenal masyarakat bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Berikut diantaranya:
Panjat Pinang
Tradisi panjat pinang sudah dikenal di Nusantara sejak awal abad ke-20 pada masa kolonial Belanda. Mengutip Antara, perlombaan ini dahulunya dikenal dengan istilah de klimmast.Catatan tokoh lingkungan menyebutkan bahwa hiburan semacam ini, seperti pada perayaan "Semarak Kalimalang", telah ada sejak era 1930-an. Sempat terhenti saat masa perang, tradisi ini kemudian dihidupkan kembali pada awal 1980-an.
Menurut Antara, setelah Indonesia merdeka, tradisi ini “diindonesiakan” dan menjadi perayaan kebersamaan rakyat Indonesia.
Balap Karung

Zakloopen. (spelactief.nl)
Sama halnya dengan panjat pinang, permainan balap karung telah hadir di Nusantara sejak awal abad ke-20. Di Belanda, permainan ini dikenal dengan nama zakloopen dan menjadi salah satu permainan tradisional anak-anak.
Surat kabar era Hindia Belanda, De Indische Courant, mencatat bahwa pada tahun 1930, sekolah-sekolah anak pribumi menyelenggarakan lomba balap karung dan balap telur untuk memeriahkan ulang tahun ke-50 Ratu Belanda kala itu, Ratu Wilhelmina.
Hingga saat ini di Belanda, permainan zakloopen masih sering digelar pada perayaan Hari Raja (Koningsdag).
Lomba Makan Kerupuk

Keluarga kerajaan Belanda dalam lomba Koekhappen di Koningsdag tahun 2005. (Dok. ANP)
Mengutip Antara, lomba makan kerupuk mulai ramai diintegrasikan ke dalam perayaan HUT RI pada era 1950-an. Kerupuk sendiri memiliki nilai historis karena menjadi salah satu makanan pendamping utama rakyat pada masa krisis ekonomi pada 1930–1940-an akibat harganya yang terjangkau.
Di Belanda, terdapat permainan tradisional serupa bernama koekhappen. Namun, bukan menggunakan kerupuk, permainan tersebut memakai kue khas Belanda yang digantung.
Mengutip majalah Belanda, Kijk Magazine, tradisi koekhappen pertama kali berlangsung pada 1861, ketika sebuah sekolah di Utrecht memperingati ulang tahunnya yang ke-225.