Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rentetan Tragedi IHSG Terkoreksi dalam Sejarah Ekonomi Nasional
Husen Miftahudin • 31 January 2026 19:45
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambruk dan menyentuh level terendah dalam beberapa hari terakhir. Meskipun hari ini IHSG terpantau mengalami kenaikan, namun anjloknya pasar modal turut mengguncang Bursa Efek Indonesia (BEI), yang berimbas pada pengunduran diri Direktur BEI, Iman Rachman pada Jumat, 30 Januari 2026. Peristiwa ini seolah membuka kembali masa-masa paling kelam dalam sejarah pasar saham tanah air.
Mengutip dari berbagai sumber, berikut daftar kelam ambruknya IHSG yang pernah mengguncang perekonomian nasional:
1. Krisis moneter (1998)
Pada 8 Januari 1998, IHSG mencatatkan sejarah kelam yang belum tertandingi dengan anjlok 11,88 persen dalam satu hari perdagangan. Indeks jatuh dari level sekitar 390-an ke posisi 347,1. Peristiwa ini sering disebut “Lantai Bursa yang Berdarah,” karena tercatat sebagai salah satu kejatuhan harian paling ekstrem dalam sejarah Bursa Efek Indonesia.2. Krisis keuangan global (2008)
Setelah peristiwa 1998, pada 8 Oktober 2008, suasana di Gedung Bursa Efek Indonesia kembali tegang. Hantaman krisis subprime mortgage mengirimkan gelombang tsunami ke pasar berkembang. IHSG terperosok 55 persen persen dan menyentuh level terendah di 1.111 dari level tertinggi di awal tahun sekitar 2.800.| Baca juga: Pasar Modal Minggu Ini: IHSG Turun 6,94%, Kapitalisasi Pasar Cuma Rp15.046 Triliun |
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
3. Pandemi Covid-19 (2020)
Memasuki 2020, pandemi Covid-19 turut mengguncang IHSG ke kisaran yang tidak terlihat. Sebelum berangsur pulih seiring dengan penanganan kesehatan dan stimulus ekonomi, IHSG sempat mengalami serangkaian trading halt karena penurunan yang menembus batas 5 persen dalam satu hari. Dalam hitungan minggu, IHSG kehilangan hampir 40 persen nilainya, terjerembap ke level 3.973 pada 24 Maret 2020.4. Krisis terkini (2025-2026)
Memasuki 2025 dan awal 2026, pasar modal kembali diuji oleh dinamika ekonomi baru. Pada 18 Maret 2025, pasar dikejutkan oleh penurunan rating kredit yang memicu aksi jual massal, menyeret indeks turun 7,1 persen.Belum sempat bernapas lega, baru-baru ini pada 29 Januari 2026, bursa kembali mencatatkan rekor terendah dengan terjun bebas ke level 8 persen. Penurunan ini memicu trading halt akibat sentimen negatif terkait kebijakan transparansi indeks global. (Surya Mahmuda)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com