Luruskan Narasi 'Bom Waktu', BMKG Sebut OMC Murni Sains untuk Mitigasi Bencana

Ilustrasi persiapan operasi modifikasi cuaca. Dok. Antara

Luruskan Narasi 'Bom Waktu', BMKG Sebut OMC Murni Sains untuk Mitigasi Bencana

M. Iqbal Al Machmudi • 28 January 2026 16:57

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.

Hal ini disampaikan BMKG merespons narasi yang beredar di media sosial, bahwa OMC memiliki risiko dan seperti bom waktu. Dalam narasi yang beredar, OMC memiliki risiko bencana lain, seperti membuat kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu, sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu. 

"Dalam konteks tersebut, BMKG menegaskan cold pool atau kolam dingin merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan," jelas keterangan resmi dari BMKG, yang dikutip pada Rabu, 28 Januari 2026.

Seyogianya, setiap kali terjadi hujan secara alami tanpa campur tangan manusia pasti terbentuk secara alami. Sehingga, mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping yang berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains.

BMKG menyebut OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam. BMKG juga menegaskan implementasi OMC murni bertujuan untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan, bukan pemicu cuaca tidak stabil. 

"Lebih lanjut, jika OMC berhasil mempercepat turunnya hujan secara logis akan membentuk cold pool yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami," tulis BMKG.
 

Baca Juga: 

'Hadang' Hujan Ekstrem, 3,2 Ton Garam Disemai di Langit Jakarta




Ilustrasi cuaca ekstrem. Dok. Metrotvnews.com

Dari skala energi, tidak bisa dibenarkan. Ditinjau dari skala energi, teknologi manusia belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar. Melalui modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh, alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa

Terkait narasi memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi membuat banjir, BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis. Pertama, Jumping Process Method, tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.

Kedua, Competition Method ialah awan yang tumbuh langsung di atas daratan, penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan (tidak menghilangkan) agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif. Hal ini dilakukan untuk menurunkan intensitas hujan, bukan memindahkan ke pemukiman lain.

Namun, BMKG menyepakati kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir. Fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir. 

BMKG juga sepakat perlu adanya penataan lingkungan yang dilakukan pemerintah dan masyarakat sebagai respons terhadap penanganan banjir. Namun, saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan, seperti OMC, agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini. 

Ke depan, penataan lingkungan harus terus dilakukan dan penguatan kapasitas modifikasi cuaca harus ditingkatkan. Sebab, tantangan perubahan iklim bukan isapan jempol lantaran potensi terjadinya hujan ekstrem akan terus meningkat.

"Tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga. OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan," tulis BMKG.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)