Pemuda Diajak Peduli dan Terlibat dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Forum Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Indonesia bertajuk "Rembuk Pangan" yang digelar Rembuk Pemuda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Pemuda Diajak Peduli dan Terlibat dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Whisnu Mardiansyah • 10 September 2026 18:16

Sleman: Isu ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pelaku sektor pertanian. Generasi muda juga didorong untuk ikut memahami, peduli, dan terlibat dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.

Semangat tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Indonesia bertajuk "Rembuk Pangan" yang digelar Rembuk Pemuda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta di Sleman, Yogyakarta, Rabu-Kamis, 9-10 September 2026.

Forum tersebut diikuti 170 peserta dari berbagai latar belakang. Mahasiswa, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), akademisi, peneliti, hingga komunitas pertanian dari DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berkumpul untuk membahas persoalan pangan sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda.

Sejumlah perguruan tinggi turut mengirimkan mahasiswa, di antaranya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Brawijaya, Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Koordinator Rembuk Pemuda DIY Ahmad Makarim Pramudita mengatakan kepedulian generasi muda terhadap pangan perlu terus dibangun. Menurut dia, pangan merupakan salah satu kebutuhan mendasar yang berkaitan erat dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
 


"Kementerian Pertanian pernah menyatakan bahwa Indonesia dapat bertahan dari krisis sebesar apa pun, berilmu sebesar apa pun, kecuali yang namanya krisis pangan. Ini yang kemudian menjadi concern kita pada saat ini, mengapa pangan menjadi hal yang penting untuk sama-sama kita perhatikan," kata Pramdi sela kegiatan itu, Kamis, 10 September 2026.

Pram menilai anak muda perlu memiliki ruang untuk memahami persoalan pangan dari berbagai perspektif. Karena itu, Rembuk Pangan mempertemukan peserta dari beragam latar belakang agar isu ketahanan pangan tidak hanya dibicarakan oleh kalangan yang berkecimpung langsung di sektor pertanian.

"Jadi, kita berdiri di sini atau hadir di sini sama-sama sebagai seorang pemikir, sama-sama sebagai orang yang ingin dan memiliki jiwa kepedulian yang sama terhadap ketahanan pangan nasional itu sendiri," katanya.

Menurut Pram, keterlibatan pemuda juga penting untuk menghasilkan gagasan baru mengenai arah ketahanan pangan di Indonesia. Ide tersebut diharapkan muncul dari pengalaman dan sudut pandang generasi muda.

"Output terbesar yang kita harapkan daripada kegiatan Rembuk Pangan ini adalah muncul ide-ide baru, muncul masukan-masukan baru, muncul masukan-masukan kritis baru terhadap kebijakan ketahanan pangan di Indonesia itu sendiri," kata Pram melanjutkan.


Polda Riau mendorong kolaborasi dengan petani dan berbagai pihak untuk mendukung program ketahanan pangan di Riau. (Foto: Ist)


Anak Muda Perlu Kenal Pangan Lokal

Perhatian terhadap pangan juga berkaitan dengan pilihan masyarakat dalam mengonsumsi dan memanfaatkan sumber pangan yang tersedia di daerah masing-masing.

Salah satu peserta, Mutiara Bintang Ramadhani, mahasiswa jurusan Arkeologi UGM, mengikuti kegiatan tersebut secara pribadi karena ingin memperluas pengetahuannya mengenai pangan lokal.

"Saya ingin belajar lebih banyak karena menurut saya bahan pangan di Indonesia itu sangat melimpah. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini, saya bisa lebih memahami tentang bahan makanan yang bisa diolah yang ada di sekitar kita," kata Mutiara.

Ia menilai potensi pangan lokal Indonesia cukup beragam. Salah satu sumber pangan yang menurutnya masih perlu lebih dikenalkan kepada masyarakat ialah umbi-umbian.

"Umbi-umbian di Indonesia itu sangat banyak, tapi masyarakat masih terlalu awam untuk menjadikan itu sebagai makanan pokok. Saya berharap dengan wawasan dan informasi yang didapat di sini, saya bisa merealisasikan bahwa makanan pokok itu tidak hanya dari beras," ujarnya.

Mutiara berpandangan kepedulian terhadap pangan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, termasuk keluarga. Pengetahuan mengenai bahan pangan di sekitar diharapkan dapat mendorong perubahan kebiasaan dalam mengonsumsi dan memanfaatkan sumber pangan lokal.


Regenerasi Petani Jadi Perhatian

Keterlibatan generasi muda dalam isu pangan juga tidak terlepas dari keberlanjutan sektor pertanian. Dalam forum tersebut, peserta mengidentifikasi sejumlah persoalan, termasuk regenerasi petani dan keterbatasan lahan akibat alih fungsi.

Presiden Mahasiswa DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Diaz Habibie Rahman mengatakan generasi muda memiliki peluang untuk membawa inovasi baru ke sektor pertanian, termasuk melalui penerapan metode bertani yang lebih ramah lingkungan.

"Anak-anak muda mencoba berinovasi di bidang pertanian dengan cara menanam yang ramah lingkungan, minim pestisida dan pupuk kimia. Ketika mereka menggunakan label ramah lingkungan, secara nilai harga bisa lebih tinggi dan pasar tersendiri sudah ada. Ini inovasi yang wajib disebarluaskan, bahwa kita masih punya kesempatan menghidupi diri lewat pertanian," tutur Diaz.

Menurut Diaz, persoalan ketahanan pangan juga perlu dipahami dari sisi hilir, termasuk pemenuhan gizi dan tata kelola program pangan pemerintah.

Rembuk Pangan turut membahas pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk aspek distribusi dan higienitas makanan. Peserta mengusulkan pengawasan independen untuk memastikan proses pengolahan hingga distribusi makanan berjalan sesuai standar kebersihan.

"Untuk distribusi, diusulkan adanya pengawas independen dari luar struktur SPPG atau semacam konsultan yang mengawasi koki memasak dan memastikan rantai makanan dari dapur ke sekolah tetap higienis dan mencegah kasus keracunan," kata dia.

Diaz mengatakan berbagai gagasan yang muncul dalam forum akan dirangkum melalui sesi Harvest atau Panen Gagasan. Hasilnya disusun menjadi policy brief yang direncanakan disampaikan kepada pemangku kebijakan.

"Tujuannya memberikan rekomendasi kebijakan dalam isu ketahanan pangan dan juga pemenuhan gizi. Setelah FGD selesai, ada namanya sesi Harvest atau Panen Gagasan. Sesi ini dicatat oleh tim penyusun policy brief-nya untuk dibuatkan naskah yang nanti akan diserahkan kepada stakeholder terkait, seperti Kementerian Pertanian dan Badan Gizi Nasional," terang Diaz.

Forum tersebut menjadi ruang bagi pemuda untuk melihat persoalan pangan tidak sebatas urusan produksi beras, tetapi juga mencakup keberagaman sumber pangan, keberlanjutan pertanian, regenerasi petani, pemenuhan gizi, hingga pola konsumsi masyarakat.

(Whisnu M)