Militer Kuba Tembak Mati Empat Orang di Kapal Cepat Berbendera Amerika Serikat

Insiden di laut terjadi antara militer Kuba dengan kapal berbendera AS. Foto: Anadolu

Militer Kuba Tembak Mati Empat Orang di Kapal Cepat Berbendera Amerika Serikat

Fajar Nugraha • 26 February 2026 09:17

Havana: Pada Selasa, 24 Februari, Pemerintah Kuba melaporkan bahwa pasukannya telah menembak mati empat orang di atas sebuah kapal cepat terdaftar asal Amerika Serikat (AS).

Insiden ini terjadi setelah kapal tersebut memasuki perairan teritorial Kuba dan melepaskan tembakan ke arah kapal patroli penjaga pantai.

Kementerian Dalam Negeri Kuba mengatakan bahwa enam orang lainnya di atas kapal tersebut mengalami luka-luka. Selain itu, komandan kapal patroli Kuba juga dilaporkan terluka dalam baku tembak tersebut.

Seluruh korban luka telah dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis, sementara penyelidikan mendalam tengah dilakukan untuk memastikan kronologi kejadian. Menurut otoritas Kuba, kapal cepat yang terdaftar di Florida tersebut berada dalam jarak satu mil laut dari saluran di Falcones Cay, pantai utara Kuba, saat didekati oleh unit patroli.

Awak kapal cepat tersebut kemudian melepaskan tembakan terlebih dahulu yang melukai komandan kapal Kuba sebelum akhirnya dibalas oleh petugas. Meski identitas para korban belum dirilis, pemerintah Kuba telah menyerahkan nomor registrasi kapal asal Florida tersebut kepada pihak terkait sebagai bagian dari transparansi identifikasi.

“Tidak ada personel pemerintah AS yang terlibat dalam insiden tersebut.  Washington sedang melakukan verifikasi independen untuk memastikan apakah para korban merupakan warga negara AS,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis 26 Februari 2026.

Di sisi lain, Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, memerintahkan pembukaan penyelidikan terpisah dengan menggandeng penegak hukum federal. Anggota Kongres AS asal Florida, Carlos Gimenez, menyebut insiden ini sebagai pembantaian dan menuntut investigasi mendesak untuk menentukan status kewarganegaraan para korban.

Insiden berdarah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Kuba di bawah pemerintahan Donald Trump. Sebelumnya, kedua negara sempat bekerja sama dalam pemberantasan penyelundupan narkoba, namun kolaborasi tersebut kini telah dihentikan sepenuhnya.

Kuba menegaskan komitmennya untuk melindungi perairan teritorialnya sebagai pilar fundamental pertahanan nasional. Sementara itu, AS terus memperketat tekanan ekonomi, termasuk memblokir hampir seluruh pengiriman minyak ke pulau tersebut, yang semakin memperburuk hubungan diplomatik kedua negara.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)