Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi meninggal dunia pada Minggu, 1 Maret 2026. (EPA)
Siapa Pengganti Ayatollah Ali Khamenei? Ini Mekanisme Suksesi Pemimpin Iran
Muhammad Reyhansyah • 1 March 2026 12:22
Teheran: Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan negara tersebut.
Meski sebuah panel ulama bertugas menunjuk penggantinya, proses suksesi dalam sistem teokrasi Iran tergolong kompleks.
Dilansir dari ABC News, Minggu, 1 Maret 2026, penunjukan pemimpin tertinggi dilakukan oleh panel beranggotakan 88 orang yang disebut Assembly of Experts. Panel ini juga memiliki kewenangan untuk memberhentikan pemimpin tertinggi, meskipun hal itu belum pernah terjadi.
Panel tersebut terdiri sepenuhnya dari ulama Syiah yang dipilih rakyat setiap delapan tahun, dengan pencalonan yang harus disetujui oleh Guardian Council, lembaga pengawas konstitusi Iran. Dewan ini dikenal kerap mendiskualifikasi kandidat dalam berbagai pemilu, termasuk untuk Assembly of Experts.
Guardian Council melarang mantan Presiden Iran Hassan Rouhani yang dikenal relatif moderat dan menandatangani kesepakatan nuklir 2015 untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Assembly of Experts pada Maret 2024.
Menurut hukum Iran, Assembly of Experts harus “sesegera mungkin” memilih pemimpin tertinggi yang baru. Hingga itu terjadi, sebuah dewan kepemimpinan sementara dapat mengambil alih seluruh tugas kepemimpinan.
Dewan tersebut terdiri dari presiden yang sedang menjabat, kepala lembaga peradilan, serta satu anggota Guardian Council yang dipilih oleh Expediency Council, badan penasihat pemimpin tertinggi dan penyelesai sengketa dengan parlemen.
Jika mekanisme itu berlaku saat ini, Presiden reformis Masoud Pezeshkian dan kepala peradilan garis keras Gholamhossein Mohseni Ejei akan menjadi bagian dari dewan tersebut.
Siapa Kandidat Pengganti?
Proses pembahasan suksesi berlangsung tertutup sehingga sulit mengetahui siapa kandidat terkuat.Sebelumnya, presiden garis keras Ebrahim Raisi yang dianggap sebagai anak didik Khamenei diperkirakan berpeluang menggantikan posisi tersebut. Namun, ia tewas dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.
Hal itu membuat Mojtaba Khamenei, putra Khamenei yang berusia 56 tahun dan juga seorang ulama Syiah, disebut sebagai kandidat potensial, meskipun ia belum pernah memegang jabatan pemerintahan.
Namun, suksesi dari ayah ke anak dapat memicu kemarahan, baik di kalangan masyarakat Iran yang telah mengkritik pemerintahan ulama maupun di antara pendukung sistem tersebut.
Sebagian mungkin menganggapnya tidak Islami dan menyerupai pembentukan dinasti baru setelah runtuhnya pemerintahan Shah yang didukung AS pada 1979.
Sejak Revolusi Islam 1979, baru satu kali terjadi peralihan kekuasaan dalam jabatan pemimpin tertinggi. Pada 1989, Ruhollah Khomeini wafat pada usia 86 tahun setelah memimpin revolusi dan membawa Iran melalui perang delapan tahun dengan Irak.
Transisi kali ini juga terjadi setelah Israel melancarkan perang selama 12 hari terhadap Iran pada Juni 2025.
Peran Strategis Pemimpin Tertinggi
Pemimpin tertinggi merupakan figur sentral dalam sistem teokrasi Syiah Iran dan memiliki keputusan akhir atas seluruh urusan negara.Ia juga menjabat sebagai panglima tertinggi militer serta memimpin Pasukan Garda Revolusi, kekuatan paramiliter yang oleh Amerika Serikat ditetapkan sebagai organisasi teroris pada 2019 dan diperkuat perannya selama kepemimpinan Khamenei.
Garda tersebut memimpin apa yang disebut sebagai “Poros Perlawanan,” jaringan kelompok militan dan sekutu di Timur Tengah yang bertujuan menandingi pengaruh AS dan Israel. Selain itu, Garda Revolusi juga memiliki kekayaan dan aset yang luas di dalam negeri Iran.
Baca juga: Trump Klaim Sudah Miliki Gambaran Kandidat Kuat Pengganti Khamenei