Fenomena Ta'i Sano. Foto: X/updatesofwworld
Apa Itu Ta'i Sano? Fenomena Munculnya Material Hitam Usai Gempa NTT
20 August 2026 16:04
Jakarta: Fenomena munculnya material berwarna gelap di Danau Sano Nggoang, Manggarai Barat, Flores, menjadi perhatian setelah gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena yang secara lokal disebut Ta'i Sano tersebut terlihat setelah gempa, meski hubungan langsung antara gempa dan munculnya material itu belum terkonfirmasi.
Video yang memperlihatkan material gelap di danau tersebut diunggah akun X @Updatesofwworld pada Senin, 17 Agustus 2026. Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut material gelap muncul setelah gempa dan menyatakan pihak berwenang belum memastikan apakah gempa menjadi penyebab langsung fenomena tersebut.
Menanggapi hal itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menduga guncangan gempa yang kuat dapat mengaduk sedimen di dasar danau. Material yang sebelumnya terperangkap di dasar danau kemudian dapat terdorong ke permukaan melalui retakan dan terbawa hingga ke tepi danau.
Daryono juga menjelaskan kondisi geologi Danau Sano Nggoang dapat memengaruhi munculnya material tersebut. Danau tersebut merupakan sistem kaldera hidrotermal atau geotermal sehingga aktivitas di bawah permukaan juga dapat memengaruhi lumpur dan gas yang berada di dasar danau.
Apa Itu Fenomena Ta'i Sano?
Ta'i Sano merupakan sebutan lokal untuk fenomena munculnya material gelap di Danau Sano Nggoang. Belum ada istilah ilmiah yang secara khusus menetapkan Ta'i Sano sebagai suatu fenomena geologi tersendiri.Danau Sano Nggoang berada di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Danau tersebut merupakan danau vulkanik yang dikelilingi sejumlah fitur geotermal sehingga kondisi geologi dan aktivitas panas bumi di kawasan tersebut turut menjadi perhatian.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah resuspensi sedimen, yaitu terangkatnya material yang sebelumnya berada di dasar danau akibat guncangan. Gempa kuat dapat mengganggu sedimen lepas maupun memicu longsoran dasar danau sehingga material halus masuk ke dalam air.
Daryono menduga guncangan gempa kuat juga dapat memicu proses likuifaksi atau pembentukan gunungan lumpur dan pasir di dasar danau. Sedimen anoksik yang kaya bahan organik terdekomposisi dan sebelumnya terperangkap di dasar danau dapat terdorong ke permukaan melalui retakan.
“Dugaan saya, guncangan gempa kuat memicu proses likuifaksi atau pembentukan sand/mud volcanoes di dasar danau. Sedimen anoksik (kaya bahan organik terdekomposisi) di bawah dasar danau yang tadinya terperangkap, terdorong naik ke permukaan melalui retakan dan terdampar di pantai,” ungkap Daryono dalam cuitannya di X pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Sedimen dasar danau umumnya dapat berwarna hitam pekat dan memiliki bau menyengat. Kondisi tersebut dapat terjadi karena material mengandung bahan organik yang mengalami proses penguraian tanpa oksigen.

Fenomena Ta'i Sano. Foto: X/updatesoffworld
Benarkah Dipicu Gempa M7,7?
Daryono menjelaskan kondisi geotermal di bawah Danau Sano Nggoang juga dapat memengaruhi munculnya material tersebut. Interaksi air danau dengan sistem geotermal berpotensi melepaskan gas seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).Tekanan gas yang meningkat secara tiba-tiba dapat mengaduk endapan lumpur hitam di dasar danau hingga terbawa ke permukaan. Material hitam tersebut juga dapat berasal dari endapan di dasar danau kaldera geotermal yang mengandung sulfida besi atau material lumpur yang mengalami perubahan akibat aktivitas hidrotermal.
“Wai Sano adalah sistem Hydrothermal/Geotermal Kaldera, bukan sedimentary mud volcano. Namun, adukan lumpur panas (mud pool/salse) tetap bisa muncul,” imbuh Daryono.
Meski gempa berpotensi memicu gangguan pada sedimen dasar danau, hubungan langsung antara gempa M7,7 dan munculnya material hitam belum dapat dipastikan. Waktu kemunculan yang berdekatan dengan gempa belum cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.
Peneliti perlu mengambil sampel material gelap dan air danau untuk dianalisis guna memastikan penyebabnya. Pemeriksaan kimia air serta perbandingan sampel sebelum dan setelah gempa dapat membantu mengetahui perubahan yang terjadi.
Fenomena tersebut juga sempat mendapat perhatian karena lokasi Danau Sano Nggoang dilaporkan berjarak sekitar 4.990 kilometer dari India. Namun, tidak ada indikasi fenomena di danau tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap India karena kejadian tersebut merupakan fenomena geologi lokal.
Indonesia dan India memang berada dalam sistem tektonik Indo-Australia yang lebih luas. Namun, jarak yang sangat jauh membuat fenomena di Danau Sano Nggoang tidak dapat dijadikan tanda bahwa kejadian serupa akan terjadi di India.
(Angel Rinella)