Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
Angkatan Laut AS Intensifkan Operasi Penyisiran Ranjau di Selat Hormuz
Dimas Chairullah • 26 April 2026 16:50
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS tengah melakukan operasi intensif untuk menelusuri dan membersihkan ranjau bawah laut yang diduga ditanam Iran di Selat Hormuz.
Dikutip dari The Korea Herald, Minggu, 26 April 2026, langkah tersebut dilakukan untuk mengamankan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi rute utama sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Meski gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran masih berlaku, sejumlah pakar militer memperingatkan bahwa operasi penyisiran ranjau dapat berlangsung berbulan-bulan dan belum tentu langsung memulihkan kepercayaan pelayaran komersial.
Peneliti keamanan nasional dari Foreign Policy Research Institute, Emma Salisbury, menilai ancaman ranjau memiliki dampak psikologis yang besar.
“Anda bahkan tidak perlu benar-benar memasang ranjau, cukup membuat dunia percaya bahwa ranjau itu ada,” ujarnya.
Menurut sejumlah pejabat Pentagon, proses pembersihan penuh diperkirakan dapat memakan waktu setidaknya enam bulan.
Operasi Penyapuan Ranjau
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan militer AS memiliki kemampuan untuk menetralkan ancaman tersebut, sementara Trump disebut telah memerintahkan Angkatan Laut untuk menyerang kapal mana pun yang tertangkap sedang memasang ranjau di kawasan itu.Washington juga meningkatkan intensitas operasi kapal penyapu ranjau hingga tiga kali lipat.
Untuk mendukung misi tersebut, AS mengerahkan penyelam khusus, teknisi penjinak bahan peledak, kapal tempur berteknologi sonar, serta kapal penyapu ranjau tambahan dari Jepang menuju Timur Tengah.
Pakar maritim dari RAND Corporation, Scott Savitz, menjelaskan bahwa tujuan utama AS bukan membersihkan seluruh ranjau, melainkan menciptakan koridor pelayaran aman yang dapat kembali digunakan perusahaan komersial.
Namun, sektor asuransi dan pelayaran global diperkirakan tetap berhati-hati karena ancaman psikologis yang ditimbulkan dapat bertahan lama.
Pengamat industri asuransi maritim menyebut kondisi ini memberi Iran keuntungan strategis, karena bahkan setelah konflik mereda, kepercayaan terhadap keamanan Selat Hormuz kemungkinan tidak akan pulih dengan cepat.
Baca juga: AS Cegat Kapal yang Masuk Daftar Sanksi, Paksa Berbalik Arah ke Iran