Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: YouTube WEF
Macron Tegaskan Eropa Tolak Ikut Operasi Selat Hormuz
Muhammad Reyhansyah • 4 May 2026 20:13
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan Eropa sedang membangun “solusi keamanannya sendiri”.
Macron juga menyebutkan tidak akan ambil bagian dalam operasi untuk membuka kembali Selat Hormuz di bawah apa yang ia sebut sebagai “kerangka yang tidak jelas.”
Pernyataan itu disampaikan Macron pada Pertemuan ke-8 Komunitas Politik Eropa di Yerevan, Armenia.
“Orang-orang Eropa sedang membangun solusi keamanan kita sendiri. Orang-orang Eropa sedang mengambil takdir mereka di tangan mereka sendiri, meningkatkan belanja pertahanan dan keamanan serta membangun solusi bersama,” kata Macron, seperti dikutip Anadolu, Senin, 4 Mei 2026.
Ia mengatakan kebijakan keamanan Eropa sejak 2022 dibentuk melalui sejumlah inisiatif seperti Komunitas Politik Eropa, dukungan untuk Ukraina melalui negara-negara Coalition of the Willing, serta upaya ad hoc terkait Selat Hormuz.
Macron menegaskan Prancis mendukung pembukaan kembali selat tersebut, tetapi tidak akan berpartisipasi dalam operasi berbasis kekuatan di luar kerangka yang jelas.
“Jika Amerika Serikat siap membuka kembali Hormuz, itu sangat baik. Itulah yang kami minta sejak awal,” ujarnya.
Macron menambahkan Prancis lebih mendukung pembukaan Selat Hormuz secara terkoordinasi antara Iran dan Amerika Serikat sebagai satu-satunya solusi berkelanjutan untuk menjamin kebebasan navigasi “tanpa pembatasan dan tanpa pungutan.”
Ia juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap gencatan senjata di Lebanon, seraya mengatakan korban baru masih terus berjatuhan dan semua pihak harus memegang komitmen masing-masing.
Ketegangan di kawasan melonjak sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan terhadap target-target Israel dan sekutu AS di Teluk.
Sejak 13 April, Washington memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur strategis tersebut.
Gencatan senjata dua pekan diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, disusul pembicaraan di Islamabad pada 11 April, tetapi negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata itu atas permintaan Pakistan tanpa mengumumkan tenggat baru.