Jakarta: Naik kereta api mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Namun, di balik perjalanan dari satu stasiun ke stasiun lainnya, terdapat sejarah panjang yang telah berlangsung selama lebih dari 160 tahun.
Hari Kereta Api Indonesia diperingati setiap 28 September. Tahun ini, peringatan Hari Kereta Api Nasional memasuki usia ke-81. Tanggal tersebut tidak dipilih berdasarkan hari pertama kereta api beroperasi di Indonesia, melainkan merujuk pada salah satu momentum penting dalam sejarah perkeretaapian setelah Indonesia merdeka.
Pada 28 September 1945, para pekerja kereta api Indonesia yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih perusahaan kereta api dari penguasa Jepang. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan pengelolaan perkeretaapian oleh bangsa Indonesia. Mengutip laman resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, ribuan pekerja kereta api berkumpul di Balai Besar Bandung pada 28 September 1945 untuk mengambil alih kantor pusat perkeretaapian.
Lantas, bagaimana sejarah lengkap perkembangan kereta api di Indonesia? Berikut informasinya yang dirangkum dari laman resmi KAI.
Sejarah Kereta Api di Indonesia
1864
Sejarah perkeretaapian di Indonesia resmi dimulai pada 1864. Pembangunan jalur kereta api pertama dilakukan di Desa Kemijen, Semarang, oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).
Pembangunan ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J. Baron Sloet van de Beele. Jalur tersebut menghubungkan Semarang dan Tanggung dengan panjang sekitar 25 kilometer.
Jalur Semarang-Tanggung kemudian diresmikan pada 10 Agustus 1867. Jalur ini menjadi bagian awal dari pengembangan jaringan kereta api di Indonesia yang kemudian terus meluas hingga Surakarta dan Yogyakarta.
Keberadaan
kereta api pada masa itu berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi, terutama untuk mengangkut hasil perkebunan dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan. Pemerintah kolonial kemudian turut membangun jaringan kereta api negara melalui Staatsspoorwegen (SS).
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), pengelolaan perkeretaapian di berbagai wilayah diambil alih oleh Rikuyu Sokyoku atau Dinas Kereta Api Jepang.
1945
Setelah Indonesia merdeka, para pekerja kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) bergerak mengambil alih kantor dan aset penting perkeretaapian dari penguasa Jepang.
Puncaknya terjadi pada 28 September 1945, ketika para pekerja kereta api berhasil mengambil alih kantor pusat perkeretaapian di Bandung. Momentum tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.
Setelah pengambilalihan tersebut, para pekerja
kereta api menggelar pertemuan di Bandung. Pada 30 September 1945, mereka menyepakati pembentukan Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) sebagai pengelola perkeretaapian Republik Indonesia.
Evolusi Kelembagaan Kereta Api
Seiring berjalannya waktu, struktur organisasi pengelola kereta api nasional mengalami sejumlah perubahan status badan hukum. Perubahan tersebut berlangsung secara bertahap, yaitu:
- 1950: DKA (Djawatan Kereta Api)
- 1963: PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api)
- 1971: PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api)
- 1991: Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api)
- 1998: PT Kereta Api (Persero)
- 2010: PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia hingga berkembang menjadi layanan transportasi yang digunakan masyarakat seperti saat ini.
Nah, lebih dari satu setengah abad setelah jalur kereta api pertama dibangun, perkeretaapian Indonesia terus mengalami perkembangan, baik dari sisi kelembagaan maupun layanan. Peringatan
Hari Kereta Api setiap 28 September pun menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang tersebut dan peran para pekerja kereta api dalam sejarah Indonesia.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Eunike Michelle Gultom)