Pariwisata Indonesia Bangkit, BPS Catat Kunjungan Wisman Tembus 10,58 Juta Sepanjang Januari-Agustus 2026

6 October 2026 20:01

Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren pemulihan yang semakin kuat menuju kondisi sebelum pandemi Covid-19. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah akumulasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 berhasil menembus 10,58 juta kunjungan, yang sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak tahun 2020.

"Capaian kunjungan wisman dari Januari sampai dengan Agustus 2026 ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2020. Dan kalau teman-teman media melihat grafiknya menunjukkan adanya kebangkitan ke arah kondisi sebelum pandemi Covid-19," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dikutip dari tayangan Primetime News Metro TV, Selasa, 6 Oktober 2026.

Capaian 10,58 juta kunjungan wisman tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 5,38 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Khusus pada bulan Agustus 2026, jumlah kedatangan wisman tercatat mencapai 1,60 juta kunjungan, atau meningkat 4,89 persen secara bulanan (month-to-month) dan naik 6,27 persen secara tahunan (year-on-year).

Berdasarkan negara asal, wisatawan berpaspor Malaysia menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 18,52 persen, diikuti oleh wisatawan asal Australia sebesar 10,75 persen, dan Tiongkok sebesar 10,16 persen.
 



Kebangkitan sektor pariwisata nasional juga didorong oleh tingginya mobilitas wisatawan domestik atau Nusantara (wisnus). Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, pergerakan wisnus tercatat mencapai 842,15 juta perjalanan, naik 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi rekor perjalanan tertinggi sejak 2019.

Di sisi lain, jumlah wisatawan nasional (wisnas) yang bepergian ke luar negeri sepanjang Januari hingga Agustus 2026 justru mengalami penurunan sebesar 3,56 persen menjadi 5,91 juta perjalanan. Penurunan tren wisata ke luar negeri ini dipengaruhi oleh terbatasnya frekuensi penerbangan internasional, harga tiket pesawat yang relatif mahal, fluktuasi nilai tukar rupiah, cuaca ekstrem di sejumlah negara destinasi, hingga dinamika geopolitik global.

"Pengaruh menurunnya wisnas yang pertama penurunan frekuensi penerbangan internasionalnya. Kemudian yang kedua ini harga tiket pesawat yang relatif lebih mahal serta nilai tukar rupiah. Kemudian juga ada dari faktor cuaca yang pada beberapa wilayah dan negara ekstrem dan juga tentunya ada geopolitik yang secara global yang saat ini terjadi," ucap Ateng.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X