Jakarta: Kemenangan Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat 2026 bisa dibilang sebagai kemenangan yang besar. Hasil ini menjadi pukulan politik bagi Partai Republik sekaligus memberikan tantangan baru bagi Presiden Donald Trump untuk menjalankan agenda pemerintahannya. Lantas seperti apa perolehan kedua partai dalam pemilu sela 2026 dan apa saja fakta menarik serta dampaknya bagi pemerintahan Trump?
Sistem pemilu AS
Kalau di Indonesia, pemilu dilakukan serentak 5 tahun sekali untuk memilih presiden dan legislatif dalam satu kali waktu. Sementara Amerika Serikat berbeda karena ada siklus berbeda untuk tiap lembaga.
Pemilihan presiden dilakukan 4 tahun sekali dengan masa jabatan 4 tahun. Dilakukan terakhir di tahun 2024, yang berarti selanjutnya adalah pada tahun 2028 dan 2032. Sementara itu, untuk DPR (House of Representatives) dilakukan 2 tahun sekali, artinya pada 2024, 2026, dan 2028.
Untuk Senat atau senator, pemilihan dilakukan selama 6 tahun sekali tetapi hanya untuk sepertiga kursi saja. Artinya ada tiga batch: jika batch pertama dipilih pada 2024 maka selanjutnya pada 2030; jika batch kedua dipilih pada 2026 maka selanjutnya pada 2032; begitupun batch ketiga jika dipilih pada 2028 maka selanjutnya pada 2034. Dengan demikian, untuk kamar Kongres di DPR dan Senat, tiap 2 tahun sekali akan ada pemilihan yang dilakukan.
Hasil pemilu sela AS
Demokrat langsung menguasai kedua kamar. Di DPR atau House of Representatives, Demokrat menguasai sebanyak 257 kursi, sementara Republik hanya 157 kursi dan hanya menyisakan 25 kursi lagi. Artinya, jika 25 kursi tersisa tersebut semuanya dimenangkan oleh Republik, Demokrat tetap menguasai mayoritas kursi di DPR.
Sementara itu di Senat, Demokrat kembali unggul dengan total 54 kursi, sedangkan Republik mengamankan 44 kursi dan menyisakan 2 kursi lagi. Jika 2 kursi tersisa tersebut dimenangkan oleh Republik, Demokrat tetap menang. Ini merupakan kemenangan yang telak dan terjadi di beberapa negara bagian yang cukup mengagetkan, seperti Texas, Kansas, Iowa, Ohio, South Carolina, Maine, serta North Carolina. Kemenangan ini sangat telak terutama di Kansas karena beberapa negara bagian tersebut dikenal sebagai basis kuat Partai Republik, tetapi kini berbalik dimenangkan oleh Partai Demokrat.
Kemenangan bersejarah di pemilu sela
Dengan adanya kemenangan ini, ada beberapa sejarah yang tercipta dari pemilu 2026 ini. Dari negara bagian Texas, James Tallarico menjadi senator Demokrat pertama dalam 38 tahun. Masih dari Texas—karena di Amerika Serikat juga ada pemilihan gubernur yang waktunya berbeda-beda, di mana tahun ini ada sekitar 30-an negara bagian menggelar pilgub—Gina Hinojosa menjadi gubernur perempuan Latina pertama yang terpilih di Texas.
Dari South Carolina, Annie Andrews menjadi sosok pertama dari Partai Demokrat yang menang sebagai senator di abad ke-21. Sejak tahun 1998, senator dari South Carolina tidak pernah berasal dari Partai Demokrat, dan kini rekor tersebut dipecahkan oleh Annie Andrews.
Bukan hanya tiga nama tersebut, ada juga nama-nama lain yang mengukir sejarah dalam pemilu ini:
Kansas: Adam Hamilton menjadi senator Demokrat pertama sejak 1932. Setelah hampir 90 tahun, Kansas akhirnya berhasil merebut kembali kursi Senat melalui Adam Hamilton.
Ohio: Sherrod Brown memenangkan kursi Senat di negara bagian Ohio, kawasan yang dalam tiga kali pemilihan presiden sebelumnya dimenangkan oleh Donald Trump.
New York: Avery Kawash menjadi keturunan Palestina pertama yang terpilih sebagai senator untuk negara bagian di New York. Meskipun bukan di tingkat Federal Amerika Serikat, hal ini tetap menjadi sejarah karena baru pertama kali ada keturunan pengungsi Palestina yang menjadi senator negara bagian.
Fakta menarik pemilu sela AS
Fakta menarik lainnya datang dari pemilihan gubernur. Tahun ini sebanyak 36 negara bagian menggelar Pilgub yang hasilnya sangat menarik, sebab 17 Pilgub di antaranya dimenangkan oleh perempuan. Ada 17 gubernur perempuan yang akan menjabat di Amerika Serikat pada 2027 mendatang, tersebar dari Georgia, Texas, Tennessee, Ohio, Minnesota, New Mexico, Michigan, Arkansas, Oregon, New Hampshire, sampai Rhode Island.
Selain itu, terdapat 5 gubernur baru berkulit hitam yang terpilih, sebuah sejarah yang cukup jarang terjadi di Amerika Serikat. Mereka berasal dari Florida, Nevada, Wisconsin, Maryland, serta Georgia. Nama Keisha Lance Bottoms menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai gubernur di Amerika Serikat. Secara keseluruhan, sebanyak 124,3 juta rakyat Amerika Serikat telah menggunakan hak suaranya.
Satu hal lagi yang tidak kalah menarik adalah kemenangan Abdul El-Sayed, yang menjadi senator muslim pertama dari Michigan untuk Senat Federal Amerika Serikat.
Dampak kekalahan Republik pada Pemerintahan Trump
Dampak dari hasil ini terhadap pemerintahan Donald Trump sangat signifikan. Dengan Kongres yang sudah dikuasai oleh Demokrat, agenda, program, dan anggaran yang selama ini dicanangkan oleh Donald Trump berpotensi mengalami hambatan. Kongres akan lebih ketat mengawasi dan menyelidiki jalannya pemerintahan Donald Trump.
Bahkan jika terjadi pelanggaran undang-undang, isu pemakzulan bisa saja muncul sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini juga berdampak pada persetujuan calon pejabat dan hakim federal, karena pengesahannya harus melalui persetujuan Kongres—yakni DPR dan Senat—yang kini dikuasai oleh Partai Demokrat.
Kenapa Partai Republik kalah di pemilu sela?
Lantas, mengapa Partai Republik dan Donald Trump bisa mengalami kekalahan dalam pemilu sela kali ini? Ada tiga faktor utama:
Perekonomian dan Biaya Hidup: Meskipun inflasi sudah melanda dari puncaknya, harga kebutuhan pokok, perumahan, dan layanan kesehatan masih tinggi di Amerika Serikat. Kondisi ini membuat masyarakat terbebani, terutama keluarga kelas menengah dan berpenghasilan rendah. Isu daya beli menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan pemilih.
Keterlibatan Militer dan Konflik Luar Negeri: Keterlibatan Amerika Serikat dalam perang dengan Iran memicu kekhawatiran publik terhadap keamanan dan dampak ekonomi. Perang membutuhkan biaya besar yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar, yang kemudian berdampak pada biaya transportasi serta harga barang. Masyarakat juga mengkhawatirkan risiko korban jiwa dan keterlibatan militer yang semakin dalam.
Ketidakpuasan terhadap Kepemimpinan: Tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump menjadi faktor kunci. Berdasarkan survei AP-NORC pada Oktober 2026, sebanyak 64 persen warga Amerika Serikat tidak menyetujui kinerja Trump sebagai Presiden. Bahkan 80 persen menginginkan perubahan besar atau perombakan total dalam tata kelola negara saat ini.
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela ini menjadi sinyal kuat perubahan peta politik di Amerika Serikat. Hasil ini menjadi tantangan bagi Donald Trump yang harus berhadapan dengan Kongres yang lebih kritis terhadap pemerintahannya. Pertanyaan besarnya, akankah kemenangan Demokrat ini menjadi awal perubahan arah politik Amerika Serikat atau justru menjadi momentum bagi Partai Republik untuk bangkit kembali menjelang Pemilihan Presiden 2028 mendatang?
Sumber: Redaksi Metro TV