Kekalahan Republik Diprediksi, Penasihat Trump Sempat Ingin Cari Suaka di Israel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times

Kekalahan Republik Diprediksi, Penasihat Trump Sempat Ingin Cari Suaka di Israel

Muhammad Reyhansyah • 5 November 2026 19:02

Washington: Sejumlah penasihat senior Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan sempat bercanda mengenai kemungkinan mencari suaka di Israel menjelang kekalahan besar Partai Republik dalam pemilu sela pada Selasa, 3 November 2026. 

Percakapan tersebut berlangsung dalam pertemuan video tertutup enam hari sebelum pemungutan suara.

The New York Times melaporkan pada Rabu, 4 November 2026, lebih dari dua lusin penasihat politik senior Trump mengikuti pertemuan tersebut. Mengutip empat orang yang mengetahui diskusi itu, surat kabar tersebut menyebut para peserta mulai mengkhawatirkan peluang Partai Republik dalam pemilu.

Percakapan tersebut dilaporkan diwarnai humor gelap mengenai pengaturan pemakaman, makanan penjara, pengampunan presiden, hingga kemungkinan meninggalkan AS.

“Setidaknya Bibi menang. Dia akan melindungi kita,” kata James Blair, mantan pejabat Gedung Putih yang meninggalkan jabatannya untuk menangani strategi pemilu sela Trump. Pernyataan itu merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Mungkin kita bisa mencari suaka di Israel,” jawab kepala jajak pendapat Trump, Tony Fabrizio, dikutip dari Anadolu, Kamis 5 November 2026.

Komentar tersebut muncul sehari setelah Israel menggelar pemilu, ketika blok Netanyahu gagal memperoleh mayoritas parlemen. Partai Netanyahu kemudian mengeklaim pemilu tersebut telah dicurangi, menurut laporan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Fabrizio dan konsultan data Partai Republik Tim Saler memaparkan dua kemungkinan hasil pemilu, termasuk skenario yang memperkirakan kekalahan besar bagi Partai Republik.

Kekhawatiran tersebut akhirnya terwujud setelah Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat AS. Partai tersebut juga memenangkan sejumlah persaingan penting di negara bagian yang secara tradisional menjadi basis Republik, termasuk Kansas, South Carolina, dan Texas.

Perang Iran Bebani Republik

Menurut laporan The New York Times, perang yang masih berlangsung dengan Iran menjadi salah satu faktor utama yang melemahkan dukungan terhadap Partai Republik. Penutupan Selat Hormuz turut mendorong harga bensin di AS melampaui USD4 per galon.

Sebuah presentasi internal yang diedarkan kepada pejabat Gedung Putih pada musim panas menunjukkan dukungan terhadap Demokrat meningkat ketika pertempuran berlangsung. Dukungan tersebut kemudian menurun selama negosiasi diplomatik dan kembali meningkat setelah gencatan senjata runtuh.

Pada akhir Juli, Demokrat telah unggul 10 poin persentase dalam jajak pendapat untuk pemilihan Kongres. Presentasi tersebut memperingatkan peluang Partai Republik mempertahankan kendali DPR bergantung pada tercapainya gencatan senjata yang berkepanjangan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penurunan harga bensin. Konflik tersebut juga dinilai bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menghindari perang baru dan menurunkan biaya hidup.

Jajak pendapat internal Partai Republik yang dilakukan dua pekan sebelum pemilu menunjukkan pemilih yang tidak berencana mendukung partai tersebut menempatkan penghentian perang dan penanganan inflasi sebagai dua prioritas utama.

Persoalan Ekonomi dan Politik

Selain perang Iran, laporan tersebut menyebut kebijakan perdagangan Trump, tuduhan korupsi, dan penanganan persoalan ekonomi oleh pemerintahannya turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik.

Sementara itu, Demokrat memusatkan pesan kampanye pada kenaikan biaya kebutuhan rumah tangga dan tuduhan bahwa pemerintahan Trump lebih mengutamakan kelompok elite kaya dibandingkan masyarakat umum.

Pemimpin Demokrat di DPR AS Hakeem Jeffries mengatakan perang Iran semakin memperkuat perbedaan politik antara kedua partai.

Penguasaan Kongres oleh Demokrat diperkirakan akan mempersulit agenda legislasi Trump selama dua tahun terakhir masa kepresidenannya.

(Fajar Nugraha)