Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times
Republik Kalah, Trump Menyatakan Akan Terima Hasil Pemilu Sela
Fajar Nugraha • 4 November 2026 14:32
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia sangat bersedia untuk menerima hasil pemilihan paruh waktu dan siap untuk bekerja sama dengan Partai Demokrat.
Dalam sebuah wawancara dengan dua reporter The Times, Presiden Trump mengaitkan kekalahan Partai Republik dengan fakta bahwa namanya tidak tercantum dalam surat suara.
“Kami, Anda tahu, menantikan untuk bekerja sama dengan mereka,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan The New York Times, pada Selasa 3 November 2026 malam waktu setempat.
“Kami mungkin akan mencapai kesepakatan,” imbuh Trump.
Trump menyebut kekalahan Partai Republik disebabkan oleh fakta bahwa namanya tidak ada dalam surat suara, serta menyebut keputusannya untuk “berperang” melawan Iran sebagai “keputusan yang sangat bijaksana.”
Ia mengaku tidak menyesal telah memberikan dukungan kepada sejumlah kandidat, seperti Senator Lindsey Graham (Partai Republik dari South Carolina) dan Ken Paxton (Jaksa Agung dari Partai Republik untuk negara bagian Texas) yang keduanya kalah dalam pencalonan mereka.
Trump berbicara kepada The Times sesaat sebelum pukul 22.30 pada hari Selasa, saat ia sedang memantau hasil pemilu dari Gedung Putih. Partai Demokrat saat itu berada di jalur yang tepat untuk mengambil alih kendali di DPR maupun Senat.
“Saya sedang melihat hasil-hasil ini saat kita berbicara,” katanya.
“Saya melihat Lindsey kalah. Wah, luar biasa. Menurut Anda, bagaimana nasib Lindsey seandainya ia mencalonkan diri?” tambahnya, merujuk pada Senator Lindsey Graham yang meninggal dunia pada bulan Juli.
Trump menambahkan, ia yakin bahwa Graham kemungkinan besar akan memenangkan pemilihan tersebut.
Dalam percakapan singkat dengan The Times, sang presiden terdengar lebih tenang saat mencerna kemenangan telak Partai Demokrat di berbagai wilayah di Amerika Serikat.
Namun, ia menegaskan bahwa ia tidak menyesali apa pun selama dua tahun pertama masa jabatannya, meskipun Partai Republik mengalami kekalahan di banyak tempat.
“Saya menganggap ini sebagai periode dua tahun paling sukses dalam sejarah kepresidenan mana pun,” ujar Trump.
Janji Trump untuk menerima hasil pemilu ini disampaikan setelah ia terus-menerus berupaya menanamkan keraguan mengenai keamanan pemilu sepanjang tahun terakhir. Pada Selasa, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengunggah serangkaian pesan di media sosial yang berjanji akan menangkap pemilih yang bukan warga negara, meskipun pemerintah sebenarnya kesulitan menemukan mereka.
Komentar presiden tersebut muncul setelah ia berkumpul di Ruang Timur (East Room) Gedung Putih pada Selasa malam bersama sejumlah pembantu utamanya, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Jaksa Agung Todd Blanche, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick untuk memantau hasil pemilihan. Beberapa orang yang hadir menggambarkan suasananya sebagai suasana yang “kelam” dan “suram layaknya pemakaman.”
Menurut pihak yang mengetahui kejadian tersebut, beberapa tamu mulai meninggalkan lokasi sebelum pukul 10 malam. Sekutu Trump lainnya secara pribadi mengaku lega karena mereka sedang berada di luar kota.
Sepanjang malam itu, Trump meluapkan kekesalannya kepada para pembantu politiknya. Ia menuduh mereka memberikan informasi yang keliru mengenai jajak pendapat menjelang pemilihan, menurut orang-orang yang mengetahui pernyataannya—yang berbicara dengan syarat anonim untuk menceritakan percakapan pribadi tersebut.
Tidak jelas apa yang ia maksud; padahal, para pembantu Trump sebelumnya telah berbicara secara terbuka mengenai betapa sulitnya situasi bagi Partai Republik.
Seorang pejabat Gedung Putih membantah anggapan bahwa presiden merasa frustrasi terhadap para penasihatnya. Meskipun ia menyatakan tidak menyesali keputusannya untuk berperang melawan Iran dan mengatakan “akan melakukannya lagi.” Namun, ia mengakui bahwa para pemilih merasa tidak senang dengan harga bahan bakar.
“Mereka tidak keberatan soal Iran, tetapi mereka mungkin tidak senang—mereka tidak senang dengan harga minyak,” kata Trump.
“Jadi, ya, begitulah keadaannya. Namun, saya sama sekali tidak menyesali keputusan itu. Faktanya, itu adalah keputusan yang sangat bijak demi masa depan negara ini dan dunia,” celoteh Trump.
Trump mengatakan bahwa pihak Demokrat telah menghubunginya untuk membahas kemungkinan kerja sama, meskipun ia enggan menyebutkan nama siapa pun dari pihak tersebut. Ia berpendapat bahwa mereka bisa bekerja sama terkait masalah plafon utang.
“Saya memiliki hak veto penuh, jadi merekalah yang harus mendatangi kita. Dan jika mereka memiliki gagasan yang bagus, saya tentu terbuka untuk bekerja sama,” tegasnya.
Situasi yang suram ini menutup hari di mana sang presiden tidak menampakkan diri di depan publik, sembari menanti hasil dari sebuah kampanye yang menurutnya harus dipandang sebagai referendum terhadap dirinya.
Untuk hasil pemilu sela sendiri, Partai Demokrat memimpin dengan 54 kursi dari Partai Republik yang hanya mendapat 42 kursi. Sementara untuk DPR AS, Demokrat memimpin raihan 224 suara dibanding Republik mendapatkan 134 suara.