17 October 2026 22:12
Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, belum juga mereda meskipun telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Tingkat pencemaran udara yang bertahan pada status berbahaya telah menyebabkan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah tersebut melampaui 10 ribu kasus.
Kondisi ini memicu kekecewaan berat dan keprihatinan mendalam dari warga setempat. Seorang mahasiswa asal Palangka Raya, Yuyun Sanjaya Bangun, menyatakan kegeramannya atas penanganan karhutla yang dinilai lambat dan terkesan mengabaikan keselamatan masyarakat Kalimantan. Ia mengingatkan pemerintah pusat agar tidak menganggap remeh penderitaan warga yang setiap hari harus menghirup udara beracun.
"Dalam situasi asap seperti ini, saya rasa pemerintah pusat sudah mengabaikan kami di sini. Makanya jangan sampai lupa, ketika kami mengirimkan oksigen yang begitu segar, pada saat ini kami menghirup oksigen yang sangat buruk. Tolong kami, jangan sampai abai terhadap kami," tegas Yuyun dalam tayangan Top News Metro TV, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Ia juga mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dan tidak menunggu hingga jatuh lebih banyak korban jiwa.
"Jangan mengangkat isu ini menjadi isu nasional ketika sudah banyak korban bergelimpangan. Mari kita selamatkan masyarakat yang terdampak dalam hal ini, jangan sampai menunggu korban lebih banyak," tambah Yuyun.
Dampak buruk kabut asap karhutla juga dirasakan langsung oleh para tenaga kesehatan (nakes) di lapangan. Seorang nakes di Palangka Raya, Sofi, mengungkapkan terjadinya lonjakan beban kerja di berbagai fasilitas kesehatan akibat membengkaknya jumlah pasien, terutama anak-anak dan lansia. Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya merusak sistem pernapasan warga, tetapi juga melumpuhkan produktivitas dan perekonomian masyarakat.
Sofi juga menyoroti kondisi warga yang mulai lelah mengenakan masker selama tiga bulan berturut-turut di tengah udara pengap dan ancaman iritasi kulit. Namun, ia menegaskan bahwa bencana tahunan ini tidak boleh dimaklumi atau dianggap sebagai hal yang biasa.
"Kami sebagai tenaga kesehatan tentunya merasakan bahwa lonjakan beban kerja di fasilitas kesehatan meningkat. Sangat prihatin karena anak-anak juga banyak yang terdampak. Dampaknya sangat serius, tidak hanya ISPA yang meningkat atau paru-paru yang rusak, tetapi ekonomi masyarakat juga menurun," ungkap Sofi.
Sofi meminta pemerintah pusat maupun daerah untuk turun langsung ke lapangan dan merasakan penderitaan yang dialami oleh masyarakat Palangka Raya.
"Pemerintah memang harus membuka mata dan tidak menutup mata atas kebakaran yang terjadi di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Benar-benar turun untuk merasakan kenyataan di lapangan, karena udara kita di sini memang sepekat itu," tutur Sofi.