8 September 2026 17:32
Jakarta: Aktivitas Gunung Api Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah gunung tersebut berstatus siaga sejak Juli 2026.
Aktivitas vulkanik Anak Krakatau juga kembali terlihat melalui erupsi yang terjadi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 04.40 WIB. Kondisi ini kembali mengingatkan pada sejarah panjang kawasan Krakatau yang pernah mengalami salah satu letusan paling dahsyat pada 1883.
Gunung Krakatau adalah bagian dari rangkaian gunung berapi yang terbentuk akibat adanya pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia. Diyakini, Krakatau terbentuk akibat aktivitas vulkanik ribuan tahun lalu.
Sebelum meletus pada 1883, gunung ini dianggap sebagai gunung berapi yang relatif aktif, tetapi kurang diperhatikan oleh para peneliti karena belum menunjukkan tanda akan mengalami letusan besar.
Krakatau merupakan bagian dari gugusan pulau vulkanik di Selat Sunda. Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa Krakatau telah mengalami beberapa kali letusan sebelum 1883. Aktivitas tersebut membentuk sejumlah kerucut gunung api, termasuk Rakata, Danan, dan Perboewatan, yang kemudian menjadi bagian dari kompleks Krakatau sebelum terjadinya letusan besar.
Krakatau berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik yang membuat wilayah Indonesia memiliki aktivitas vulkanik dan seismik tinggi. Kondisi geologis tersebut turut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kawasan Selat Sunda memiliki sejarah aktivitas gunung api yang panjang.
Tanda-tanda aktivitas besar Krakatau mulai terlihat pada 20 Mei 1883. Saat itu, terjadi pelepasan uap dari kawasan Perboewatan yang kemudian disertai abu vulkanik. Kolom abu dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 6 kilometer. Suara letusan bahkan terdengar hingga Jakarta yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Krakatau.
Aktivitas kemudian sempat menurun pada akhir Mei. Namun, pada 16 Juni, letusan kembali terjadi dan menghasilkan awan hitam tebal yang menutupi kawasan pulau selama beberapa hari.
Memasuki Agustus, aktivitas Krakatau semakin meningkat. Pengamatan pada 11 Agustus menunjukkan adanya sejumlah ventilasi atau pusat keluarnya material vulkanik di kawasan gunung. Vegetasi di pulau juga telah mengalami kerusakan akibat aktivitas vulkanik yang terus berlangsung.
Pada 26 Agustus, aktivitas Krakatau meningkat secara drastis. Letusan berlangsung terus-menerus dan menghasilkan kolom abu yang sangat tinggi. Kapal-kapal yang berada di sekitar Krakatau bahkan terkena hujan abu dan batu apung panas.
Tsunami kecil juga mulai menghantam pesisir Jawa dan Sumatra pada sore hari. Keesokan harinya, 27 Agustus 1883, Krakatau mengalami empat ledakan besar yang tercatat sekitar pukul 05.30, 06.44, 10.02, dan 10.41 waktu setempat.
Ledakan pada pukul 10.02 menjadi salah satu ledakan paling dahsyat. Suaranya terdengar hingga ribuan kilometer dari lokasi gunung. Catatan sejarah menyebut suara letusan terdengar hingga Perth, Australia Barat, dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 4.800 kilometer.
Besarnya energi letusan menyebabkan sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera. Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, sebagian besar korban jiwa dalam peristiwa tersebut bukan hanya akibat letusan secara langsung, tetapi terutama karena tsunami yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatra.
Salah satu dampak paling mematikan dari letusan Krakatau adalah tsunami. Gelombang tsunami menyapu berbagai wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda. Merangkum dari sejumlah catatan sejarah, ketinggian gelombang mencapai sekitar 24 meter di sejumlah wilayah pantai selatan Sumatra dan sekitar 42 meter di pantai barat Jawa.
Wilayah seperti Anyer, Caringin, Merak, dan kawasan pesisir Banten mengalami kerusakan parah. Di Sumatra, kawasan Teluk Betung juga terdampak tsunami.
BNPB mencatat bahwa lebih dari 36.000 orang meninggal dalam bencana Krakatau 1883, dengan tsunami menjadi salah satu penyebab utama korban jiwa. Infrastruktur dan jalur komunikasi di sejumlah wilayah juga mengalami kerusakan berat.
Sementara itu, data yang tercantum dalam catatan letusan Krakatau memperkirakan jumlah korban mencapai 36.417 orang.
Dahsyatnya letusan Krakatau tidak hanya berdampak di sekitar Selat Sunda. Material vulkanik yang dilepaskan ke atmosfer turut memengaruhi kondisi atmosfer global. Letusan tersebut melepaskan sejumlah besar sulfur ke atmosfer.
Material vulkanik yang berada di atmosfer kemudian memengaruhi jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi. Perubahan atmosfer tersebut dikaitkan dengan penurunan suhu rata-rata global setelah letusan.
Selain itu, partikel vulkanik di atmosfer juga menghasilkan fenomena langit dengan warna matahari terbit dan terbenam yang tampak lebih merah di sejumlah wilayah dunia.
Akibat letusan 1883, gunung api baru kemudian tumbuh dari kawasan kaldera yang terbentuk akibat letusan tersebut. Gunung itu dikenal sebagai Anak Krakatau.
Aktivitas erupsi Anak Krakatau mulai tercatat sejak 1927. Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami pertumbuhan dan aktivitas vulkanik secara berkala.
Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, Anak Krakatau tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan 1883, tepatnya di antara lokasi bekas kerucut Danan dan Perboewatan.
Kemunculan Anak Krakatau menjadi bukti bahwa aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau masih terus berlangsung. Karena itu, kawasan tersebut hingga kini tetap menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pemantauan aktivitas gunung api di Indonesia.
Sejarah Krakatau kembali menjadi perhatian dunia pada 2018 ketika Anak Krakatau mengalami aktivitas erupsi yang kemudian menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh.
Pada 22 Desember 2018, runtuhnya sebagian lereng Anak Krakatau memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Gelombang tersebut kemudian menghantam sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa ini menewaskan lebih dari 400 orang dan menyebabkan kerusakan di sejumlah kawasan pesisir. Runtuhnya tubuh gunung juga membuat ketinggian Anak Krakatau berkurang secara signifikan.
Nah, sejarah panjang Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di kawasan ini telah berlangsung sejak lama dan terus mengalami perubahan hingga saat ini. Dari letusan besar pada 1883 hingga erupsi Anak Krakatau, kawasan Krakatau tetap menjadi salah satu wilayah yang perlu dipantau karena aktivitas gunung apinya masih berlangsung.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Eunike Michelle Gultom)