Gugur dalam Misi Perdamaian, 3 Prajurit TNI Terima Medali Dag Hammarskjöld

Muhamad Marup • 5 April 2026 14:01

Jakarta: Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur saat menjalankan misi perdamaian di LebanonKetiga prajurit tersebut yaitu Kapten Infanteri (Inf), Zulmi Adirya, Sersan Satu (Sertu) M. Nur Ichwan, dan Prajurit Kepala (Praka), Farizal Rhomadhon.

Jenazah ketiga prajurit sudah tiba di Indonesia pada Sabtu malam, 4 April 2026. 
Presiden RI, Prabowo Subianto turut hadir memberikan penghormatan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, memastikan, ketiga prajurit akan mendapatkan kenaikan pangkat dan santunan baik dari TNI maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, ketiganya akan mendapatkan penghargaan Medali Dag Hammarskjöld.

Mengutip laman The United Nations, Sekretaris Jenderal menetapkan medali Dag Hammarskjöld sebagai penghargaan anumerta kepada anggota operasi penjaga perdamaian yang gugur saat bertugas dalam operasi penjaga perdamaian di bawah kendali dan wewenang operasional PBB.

Deskripsi Medali

Medali Dag Hammarskjöld merupakan sebuah elipsoid kristal kaca timbal bening tanpa warna berukuran sekitar 2 7/8 x 2 1/4 x 11 1/16 inci, dihaluskan dengan pasir (monaired) dengan nama dan tanggal kematian penerima, logo Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan tulisan "The Dag Hammarskjöld Medal. In Service of Peace”, dalam bahasa Inggris dan Prancis.

Kemasan presentasi terbuat dari karton dengan judul Medali dan logo Perserikatan Bangsa-Bangsa tercetak pada bidang biru PBB. Medali kristal diletakkan di atas alas beludru hitam empuk dengan pita biru Perserikatan Bangsa-Bangsa terpasang, berukuran sekitar 4,0 x 4,0 inci.

Sejarah Medali

Mengutip laman veterans.gc.cs, Medali Dag Hammarskjöld dibuat saat masa kepemimpinan Sekretaris Jenderal PBB Kofi A. Annan pada 22 Juli 1997 untuk menandai peringatan 50 tahun operasi perdamaian. Medali tersebut menggunakan nama Sekretaris Jenderal Dag Hammarsjöld yang meninggal dalam tugas untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh pada 18 September 1961 saat mengunjungi misi PBB di Kongo.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)