28 August 2026 02:40
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi dibuka Presiden Prabowo Subianto di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada Kamis 27 Agustus 2026. Pembukaan muktamar turut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta sejumlah tokoh NU.
Muktamar ke-35 NU menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama. Forum ini dihadiri ratusan utusan pengurus NU dari tingkat pusat, wilayah, hingga cabang.
Di tengah berlangsungnya muktamar, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga semakin mengerucut. Sejumlah nama dari kalangan pesantren, pengurus NU, hingga pejabat negara disebut masuk dalam bursa.
Nama-nama tersebut yakni KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Zulfa Mustofa yang menjabat Wakil Ketua Umum PBNU, serta Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang.
Ada pula Abdussalam Shohib atau Gus Salam yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Kemudian Menteri Agama Nasaruddin Umar, Imam Jazuli selaku Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, serta petahana Gus Yahya Cholil Staquf.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Prof. Burhanuddin Muhtadi mengatakan sosok yang ideal memimpin NU ke depan adalah figur yang mampu mempersatukan organisasi.
Hal ini dinilai penting setelah sebelumnya terjadi perpecahan di internal PBNU.
“Figur yang bisa mempersatukan NU pasca perpecahan di internal PBNU beberapa waktu lalu,” kata Burhan dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurutnya, perpecahan di tingkat elite telah menodai citra NU sebagai organisasi besar.
“NU adalah organisasi besar bukan hanya di Indonesia, tapi bahkan organisasi Islam terbesar di dunia dari sisi jumlah,” ujarnya.
Burhanuddin menyebut Muktamar ke-35 NU kali ini sebagai muktamar persatuan dan jalan tengah setelah terjadinya pertikaian.
Selain menjadi figur pemersatu, calon Ketua Umum PBNU dinilai perlu memiliki kemampuan manajemen dan keorganisasian yang baik.
Burhanuddin menilai NU sebagai organisasi atau jam'iyyah masih perlu meningkatkan dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Sebab, besarnya jumlah jamaah NU tidak selalu berbanding dengan kontribusi organisasi.
“Perlu figur yang punya manajemen yang baik, punya keorganisasian yang baik,” tutur Burhanuddin.
Ia juga menekankan pentingnya pemimpin NU menjaga jarak dengan politik praktis.
“Dan mampu menjaga jarak dengan politik praktis untuk kepentingan NU dan nahdliyin,” ujarnya.
Burhanuddin turut menyoroti posisi Gus Yahya sebagai petahana. Menurutnya, status tersebut memberikan keuntungan sekaligus menjadi tantangan.
Sebagai petahana, Gus Yahya memiliki popularitas dan akses struktural. Namun, rekam jejaknya selama memimpin juga akan menjadi bahan evaluasi para pemilik suara dalam muktamar.
“Sebagai petahana beliau bisa memanfaatkan incumbency advantage. Tetapi jangan lupa karena sebagai petahana beliau juga punya semacam pisau bermata dua,” kata Burhanuddin.
Ia menilai peluang Gus Yahya untuk kembali terpilih bergantung pada soliditas para pesaingnya.
Jika para pesaing terpecah, peluang Gus Yahya masih terbuka. Namun, jika para kompetitor menyatu, peluang petahana untuk kembali terpilih akan semakin mengecil.
“Kalau lawan-lawan Gus Yahya ini terpecah ya kemungkinan besar Gus Yahya masih punya potensi untuk kembali terpilih,” ujarnya.
Rais Syuriah PBNU KH Imam Buchori Cholil mengatakan belum dapat memastikan peta kekuatan masing-masing calon. Menurutnya, dinamika pemilihan masih sangat bergantung pada mekanisme yang akan ditetapkan melalui tata tertib muktamar.
“NU ini memang selalu dinamis. Maka untuk dikatakan peta terkuatnya siapa dan bagaimana itu memang sulit sekali,” kata Imam Buchori.
Ia menyebut terdapat dua keinginan mengenai mekanisme pemilihan. Salah satunya, muktamirin memilih Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), kemudian AHWA memilih Rais Aam dan Ketua Umum ditunjuk.
Opsi lainnya, AHWA hanya memilih Rais Aam, sementara calon Ketua Umum dipilih oleh muktamirin dari Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Wilayah (PW).
“Belum, ini nanti diputuskan saat pleno tatib pemilihan,” ujarnya.
Imam Buchori menyebut seluruh nama yang muncul dalam bursa telah melakukan komunikasi dengan PC dan PW yang memiliki hak suara.
Namun, kekuatan masing-masing calon belum dapat dipetakan secara pasti karena mekanisme pemilihan sendiri belum ditetapkan.
“Pada intinya dari delapan nama yang muncul itu semua sudah berkomunikasi dengan PC dan PW yang memiliki hak suara,” katanya.
Di tengah dinamika perebutan kepemimpinan, Imam Buchori berharap proses Muktamar ke-35 NU berlangsung sesuai aturan dan kesepakatan.
Ia mengakui muktamar NU memang selalu diwarnai dinamika. Namun, perbedaan tersebut diharapkan tidak berujung pada perpecahan.
“Ketika muktamar ini berjalan sesuai aturan dan kesepakatan yang sudah ditetapkan, saya kira perbedaan-perbedaan sebelumnya itu setelah muktamar itu bisa kembali menyatu,” tutur Imam Buchori.
Sementara itu, terkait anggapan adanya kedekatan calon dengan pusat kekuasaan, Imam Buchori mengatakan Presiden Prabowo justru menginginkan siapa pun yang memimpin NU dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun bangsa.
“Tidak ada itu titipan Presiden A, B, C, itu saya tidak melihat itu,” katanya.