Pascagempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Flores pada Sabtu, 15 Agusutus 2026 lalu, sejumlah akses jalan menuju wilayah kepulauan di sekitarnya masih terputus total. Jurnalis Metro TV, Nadia Soraya dan juru kamera Andi Isworo berkesempatan untuk menembus wilayah terisolasi tersebut guna melihat langsung kondisi para penyintas.
Perjalanan menuju titik terdampak tidaklah mudah. Tim harus menempuh perjalanan laut selama kurang lebih 4 jam dari Pelabuhan Kawapante menuju Pelabuhan Palue.
Setibanya di pelabuhan, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan roda empat selama 20 menit menuju Kampung Koa, Desa Rokirole. Namun, akses jalan ternyata terputus total akibat tertimbun material longsoran batu dan tanah, memaksa tim dan warga untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Jalan Kaki 1,5 Jam Jemput Bantuan
Akibat akses kendaraan yang terputus, penyaluran bantuan logistik tertahan dan terpusat di satu titik. Warga yang kelaparan terpaksa menempuh medan berbatu dan sisa longsoran sejauh tiga kilometer dengan berjalan kaki demi menjemput makanan dan air.
Hal ini dialami oleh Edel, salah seorang warga Kampung Koa. Ia harus menempuh perjalanan panjang mengitari area longsor.
"Jaraknya sekitar 3 kiloan. Saya butuh waktu satu setengah jam berjalan kaki, mencari jalan yang bisa dilewati dari tempat longsor itu untuk mengambil bantuan," ungkap Edel saat ditemui di tengah perjalanan, dikutip dari
Metro Hari Ini, Metro TV, Selasa 18 Agustus 2026.
Kondisi psikologis warga juga masih terguncang. Hal ini terlihat ketika seorang ibu penyintas tiba-tiba menghampiri dan memeluk erat jurnalis Metro TV yang tiba di lokasi, menyiratkan betapa mereka sangat menantikan kehadiran pihak luar dan uluran tangan.
Kondisi Kritis di Desa Nitung
Selain Kampung Koa, wilayah yang mengalami kerusakan paling masif di Pulau Palue adalah Desa Nitung. Jaraknya sekitar 15 menit menggunakan kendaraan roda dua dari Kampung Koa. Desa ini tercatat sebagai daerah paling terdampak dengan satu warga lansia dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 400 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal.
Kondisi bangunan di Desa Nitung, mulai dari rumah warga hingga fasilitas sekolah, hancur lebur. Bagian atap dan struktur bangunan runtuh rata dengan tanah. Di tengah puing-puing tersebut, tampak seorang warga bernama Yanto tengah mengais reruntuhan rumahnya.
"Saya sedang mencari pakaian, pokoknya barang-barang yang masih bisa dipakai untuk bertahan hidup," tutur Yanto.
Yanto menceritakan detik-detik mencekam saat
gempa berkekuatan M 7,7 tersebut meluluhlantakkan tempat tinggalnya. "Ketika ada getaran, saya langsung lari ke luar, teriak sama istri dan anak. Begitu kami keluar, rumah langsung runtuh," ujarnya.
Memasuki hari ketiga pascagempa, warga di wilayah terisolasi ini sangat menggantungkan hidup pada bantuan dari luar. Yanto menegaskan bahwa kebutuhan mendesak warga saat ini bukan hanya sekadar sembako.
"Kami sangat butuh sembako, pakaian, dan terutama air minum. Selain itu, kami juga butuh penerangan dan perbaikan akses jalan segera," harap Yanto.