17 September 2026 22:48
Jakarta: Pakar perkapalan ITS Dr. Hasanuddin menilai pembalikan bangkai KMP Virgo Transport 8 untuk mengevakuasi korban yang diduga masih terjebak memiliki risiko sangat tinggi. Proses salvage membutuhkan energi besar karena kapal memiliki displacement sekitar 7.000 ton dan berada dalam kondisi yang tidak stabil.
“Ini butuh energi yang besar untuk melakukan salvage. Dan juga kalau kita lakukan salvage, di situ ada namanya permukaan bebas. Permukaan bebas itu menyebabkan kapal tidak stabil. Kemudian ini akan sangat berisiko, atau risikonya bagi penyelam, bagi yang melakukan salvage itu sangat tinggi sekali,” kata Hasanuddin dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis 17 September 2026.
Menurut Hasanuddin, pembalikan kapal dengan bobot sekitar 7.000 ton tidak bisa dilakukan menggunakan crane biasa. Proses tersebut membutuhkan giant crane, sementara peralatan dengan kemampuan tersebut tidak tersedia untuk kondisi seperti KMP Virgo.
“7.000 ton itu, crane yang bisa melakukan itu kan tidak semua crane. Jadi di situ harus butuh giant crane yang bisa membalikkan kapal itu,” ujarnya.
Hasanuddin juga mengingatkan kondisi muatan dan kendaraan di dalam kapal yang sudah terbalik dapat meningkatkan risiko saat proses pembalikan.
“Kendaraan ini kondisinya sudah tidak stabil, ruang-ruang juga tidak stabil. Kalau ini dilakukan dengan cara hanya dengan buoyancy tanpa mengatur berat, kondisi muatan-muatan ini bisa membahayakan, menghantam kiri kanan,” katanya.
Kondisi perairan juga menjadi pertimbangan. Menurut Hasanuddin, arus dan gelombang dapat membuat bangkai kapal bergerak dinamis sehingga sulit diprediksi.
“Kalau posisinya dinamis itu sangat susah sekali memprediksi gerakannya ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, apalagi ada arus, apalagi kemudian ada gelombang dan sebagainya,” ujarnya.
Hasanuddin menyarankan opsi penyelamatan terbatas dengan penyelam dilakukan secara bertahap ketika kondisi cuaca memungkinkan. Tim SAR dapat menyisir bagian dalam kapal untuk memastikan ada atau tidaknya korban.
“Kalau melakukan penyelamatan mungkin yaitu penyelamatan terbatas. Jadi penyelam pelan-pelan ke dalam, kemudian dicari,” kata Hasanuddin.
Ia menegaskan keputusan salvage harus melalui perhitungan teknis yang matang, mulai dari daya apung, berat kapal hingga posisi tangki dan muatan.
“Kalau harus dilakukan salvage sangat berbahaya sekali karena ini harus ngitung semua. Jadi ngitung yaitu buoyancy-nya, ngitung beratnya, di posisi-posisi tangkinya di mana,” ujarnya.
Hasanuddin juga mengungkapkan pernah terjadi kecelakaan dalam proses salvage di sebuah galangan di Surabaya. Karena itu, ia mengingatkan agar keselamatan tim penyelamat menjadi pertimbangan utama.
“Untuk tim salvage-nya itu meninggal dunia ketika ada kejadian di galangan di Surabaya sini,” katanya.