Jakarta: Teror bersenjata mengguncang kawasan Gedung Putih, Washington DC. Ada seorang pria yang nekat menerobos pos pemeriksaan keamanan dan melepaskan tembakan, akhirnya memicu baku tembak dengan agen Secret Service. Pelaku tewas di tempat, sementara Presiden Donald Trump dilaporkan dalam keadaan aman.
Kronologi kejadian
Insiden ini terjadi pada Sabtu, 23 Mei pukul 18 waktu setempat. Lokasi kejadian berada di persimpangan 17th Street dan Pennsylvania Avenue Northwest, dimana kawasan ini sangat dekat dari Gedung Putih, kediaman resmi dari
Presiden Amerika Serikat.
Kronologinya berawal dari seorang pria yang mendekati pos pemeriksaan keamanan di kawasan tersebut. Petugas yang berjaga langsung memberikan peringatan, memerintahkan pria tersebut untuk menjauh. Tapi ternyata perintah itu diabaikan dan sang pria terus melangkah maju, membuka tas dan mengeluarkan senjata api kemudian melepaskan tembakan tersebut ke arah petugas.
Agen-agen dari Secret Service yang bertugas saat itu merespons dengan sigap. Baku tembak akhirnya terjadi dan berakhir dengan pelaku jatuh tersungkur di tempat kejadian. Respons cepat ini dinilai berhasil untuk mencegah eskalasi yang lebih berbahaya, mengingat lokasi kejadian berada di salah satu zona merah keamanan Nasional Amerika Serikat.
Pelaku dan korban
Yang menjadi pertanyaan utama adalah siapa pelaku dari insiden penembakan ini dan apakah ada korban yang jatuh karena insiden penembakan ini. Pertama adalah idetitas pelaku saat ini telah terungkap. Ia adalah Nasir Best, seorang pria usianya 21 tahun. Dinyatakan tewas di lokasi usai baku tembak dengan agen Secret Service. Nasir Best ini bukan orang asing di mata Secret Service.
Karena aparat keamanan Gedung Putih sudah beberapa kali berhadapan dengan pria tersebut. Misalnya di tanggal 10 Juli 2025 lalu, Best pernah mencoba untuk memasuki area Gedung Putih tanpa izin melalui salah satu akses di 1699 State Place Northwest. Saat itu ia masuk melalui pintu putar yang bertuliskan Do Not Enter, Exit Only.
Dan dalam dokumen persidangan Best mengaku sebagai Yesus Kristus dan meminta untuk ditangkap. Sehari setelah kejadian hakim memberitakan Best supaya menjauh dari Gedung Putih. Secret Service juga pernah mengamankan Best ini yang kedua kalinya di tanggal 11 Juni 2025. Karena lagi-lagi menghalangi kendaraan yang hendak masuk ke dalam kompleks Gedung Putih.
Atas insiden percobaan masuk tanpa izin tahun lalu, Best akhirnya dijatuhi perawatan kesehatan mental di sebuah klinik. Dia disebut ada riwayat gangguan mental yang kini menjadi sorotan kembali setelah penembakan di Gedung Putih kemarin.
Meski demikian hingga kini aparat penegak hukum masih belum menyampaikan apa yang menjadi motif pasti penyerangan tersebut maupun kemungkinan adanya keterkaitan dengan kelompok tertentu.
Rekam jejak inilah yang akhirnya menjadi fokus utama dalam penyelidikan. Apakah ada celah dalam sistem pengawasan terhadap individu yang sebelumnya telah bermasalah secara hukum?
Dalam insiden ini ada satu warga sipil yang dilaporkan mengalami luka-luka dan segera mendapatkan pertolongan medis. Sementera, ketika penembakan berlangsung, Presiden Donald Trump saat itu sedang berada di Gedung Putih dan dinyatakan dalam kondisi aman dan tidak terdampak secara langsung.
Fakta-fakta perkembangan penyelidikan
Pascainsiden penembakan berlangsung, kawasan Gedung Putih langsung diberlakukan status lockdown. Penguncian berlangsung kurang dari satu jam sebelum situasi dinyatakan terkendali dan akses kembali dibuka secara bertahap. Untuk proses penyelidikan resmi kini tengah berjalan. Aparat gabungan dari Secret Service dan juga FBI melakukan pemeriksaan intensif terhadap sejumlah saksi mata.
Mulai dari jurnalis yang sedang bertugas di kawasan tersebut, kemudian juga agen-agen yang terlibat langsung, hingga warga sekitar yang berada di lokasi kejadian ketika kejadian itu berlangsung.
Ada satu hal yang hingga saat ini masih belum terjawab, yaitu motifnya apa? Apakah ini memang benar-benar aksi individual dari Bas? Atau ternyata ada bagian dari jaringan yang lebih besar atau ada faktor lain yang melatar belakangnya? Semuanya ini masih dalam proses pendalaman otoritas terkait.
Insiden penembakan sebelumnya
Ini bukan insiden pertama kali. Dalam rentang kurang dari 2 bulan, kawasan Washington DC dan sekitar Gedung Putih telah menjadi lokasi serangkaian insiden bersenjata yang mengundang perhatian serius. Di tanggal 24 April 2026 lalu, ada sebuah penembakan yang terjadi di tengah White House Correspondence Dinner, makan malam koresponden Gedung Putih yang sudah jadi tradisi tahunan, mempertemukan jurnalis dengan pejabat pemerintah Amerika Serikat.
Sudah ditangkap pelakunya, pelakunya namanya adalah Coe Thomas Allen. Dia melepaskan tembakan di hotel tempat acara berlangsung. Ada seorang agen Secret Service dan juga seorang anak di bawah umur yang menjadi korban luka. Allen kemudian akhirnya ditangkap dan juga didakwa.
Tidak berserang beberapa lama, di awal Mei, tempatnya 4 Mei, aparat keamanan juga kembali harus merespons insiden penembakan lain di kawasan sekitar Washington DC.
Detailnya masih terus diverifikasi, tapi kejadian ini semakin menegaskan. Ada pola yang mengawatirkan, karena 3 insiden bersenjata di dekat pusat kekuasaan eksekutif tertinggal Amerika Serikat dalam waktu kurang dari 2 bulan. Rentetan ini mendorong evaluasi mendalam terhadap protokol keamanan yang selama ini dianggap sudah memadai.
Secret Service bersama FBI kini mengkaji ulang seluruh lapisan sistem keamanan mulai dari prosedur pemeriksaan di poster depan, sistem deteksi ancaman, hingga koordinasi antar lembaga.
Pernyataan Donald Trump
Merespons insiden yang terjadi di depan kediamannya sendiri, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang sekaligus mengandung ada apresiasi dan juga ada seruan kebijakan.
Kita sama-sama baca. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berterima kasih kepada Secret Service dan juga aparat penegak hukum kita yang hebat atas tindakan yang cepat dan juga profesional pada malam ini. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi seluruh Presiden di masa depan untuk mendapatkan ruang paling aman dan juga terlindungi yang pernah dibangun di Washington DC.
Jadi di satu sisi, Trump memberikan kredit kepada aparatnya. Tapi di sisi lain, ia secara implisit mengakui kalau fasilitas keamanan saat ini masih perlu ditingkatkan. Sebuah sinyal bahwa ternyata gedung putih dalam pandangan sang Presiden masih membutuhkan lapisan perlindungan yang lebih tangguh.
Pada intinya, 3 insiden bersenjata di sekitar Gedung Putih dalam kurun kurang dari 2 bulan ini bukan sekedar statistik. Ini adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan. Motifnya boleh berbeda, pelaku juga boleh berganti. Tapi polanya bicara sendiri.
Pertanyaan yang kini harus dijawab oleh otoritas AS bukan lagi sekadar siapa dan juga mengapa, melainkan seberapa tangguh sesungguhnya sistem keamanan yang melindungi pusat pemerintahan AS.
Sumber: Redaksi Metro TV