Kontroversi AI di Dunia Seni, Etis atau Tidak?-Melek Teknologi

30 April 2026 11:40

Jakarta: Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia seni menjadi perdebatan yang terus berkembang.

Selain membuka peluang baru dalam proses kreatif, kehadiran AI juga memunculkan berbagai pertanyaan etis, khususnya terkait dampaknya terhadap seniman manusia dan industri kreatif.

Sebuah riset berjudul The Ethical Implications of AI in Creative Industries: A Focus on AI-Generated Art yang diterbitkan oleh University of Delaware menyoroti sejumlah kekhawatiran etis terkait penggunaan AI, baik dalam seni maupun secara umum.
 



Dalam riset tersebut disebutkan bahwa penggunaan AI membutuhkan daya komputasi yang besar, terutama dalam proses pelatihan model. Konsumsi energi dalam pelatihan AI skala besar menghasilkan jejak karbon yang signifikan.

Selain itu, server AI memerlukan sistem pendinginan intensif yang mengonsumsi air dalam jumlah besar. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan, termasuk kontribusi terhadap perubahan iklim dan meningkatnya risiko cuaca ekstrem.

Kemampuan AI dalam menghasilkan gambar, foto, dan video yang realistis memunculkan risiko penyalahgunaan. Konten buatan AI semakin sulit dibedakan dari konten asli, sehingga berpotensi digunakan untuk menyebarkan misinformasi atau hoaks.

Salah satu bentuk penyalahgunaan AI yang menjadi sorotan adalah deepfake, yaitu konten manipulatif berbasis AI yang tampak sangat nyata.

Teknologi ini kerap digunakan dalam bentuk video, termasuk konten yang melibatkan manipulasi wajah atau tubuh seseorang tanpa persetujuan. Hal ini menimbulkan risiko serius terhadap privasi dan keamanan individu di ruang digital.

Isu Hak Cipta dalam Seni AI

Dalam konteks seni, AI generatif bekerja dengan mempelajari data dari berbagai karya yang tersedia di internet. Proses ini menimbulkan persoalan etis karena karya seniman digunakan tanpa persetujuan, kompensasi, atau pengakuan.

Akibatnya, muncul kekhawatiran terkait pelanggaran hak cipta serta hilangnya kontrol seniman terhadap penggunaan karya mereka.

Kekhawatiran terhadap Masa Depan Seniman

Penggunaan AI dalam industri kreatif juga memicu kekhawatiran akan potensi tergesernya peran seniman manusia. Kemampuan AI dalam menghasilkan karya secara cepat dan efisien dinilai dapat memengaruhi aspek ekonomi dan keberlanjutan profesi di bidang seni.
   

Apakah AI Bisa Menggantikan Seniman?

Meski memiliki kemampuan menghasilkan karya visual, AI bekerja berdasarkan data dan pola dari karya yang sudah ada. Sementara itu, seni manusia lahir dari pengalaman, emosi, dan ekspresi personal yang bersifat unik.

Perbedaan inilah yang menjadi dasar perdebatan mengenai sejauh mana AI dapat menggantikan peran seniman manusia dalam menciptakan karya yang orisinal.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Odetta Aisha Amrullah)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)