Jejak Abadi Rasuna Said, Sang Singa Betina

10 May 2026 15:43

Bagi warga Jakarta nama HR Rasuna Said mungkin identik dengan kemacetan dan gedung-gedung di kawasan Kuningan. Namun di balik keramaian pusat ekonomi tersebut, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan yang dijuluki Singa Betina oleh Bung Karno.

Namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah jalur vital yang menjadi simbol modernitas ibu kota. Dia adalah Hajah Rangkayo Rasuna Said, sosok yang pernah dijuluki Singa Betina oleh Bung Karno karena keberaniannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ia adalah perempuan pertama dalam sejarah Indonesia yang ditahan pemerintah Hindia Belanda hanya karena pidato-pidatonya yang dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah kolonial. Lahir pada 14 September 1910 di Maninjau, Sumatera Barat, Rasuna tumbuh dengan kemauan keras dan berpengetahuan luas. Rasuna gigih memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan persamaan hak laki-laki dan perempuan.

Meski berdarah bangsawan, ia memilih jalur pendidikan agama di pesantren Ar-Rasyidiyah hingga melanjutkan ke Diniyyah Putri Padang Panjang. Setelah menamatkan pendidikannya di Diniyyah Putri, ia menjadi pengajar di almamater-nya tersebut. Namun Rasuna akhirnya berhenti pada 1930 karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum perempuan tidak cukup hanya dari sekolah, tetapi harus disertai perjuangan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan.
 

Baca juga: Pramono: CFD HR Rasuna Said Tunjukkan Jakarta Sedang Berbenah


Rasuna mulai terlibat sejumlah organisasi pergerakan di masa kolonialisme Belanda saat itu. Tahun 1932 menjadi catatan sejarah, Rasuna ditangkap dan dipenjara di Semarang pada tahun 1932 karena keberaniannya mengecam Belanda melalui pidato-pidatonya. Namun jeruji besi tak membuatnya gentar dalam berjuang.

Usai dari penjara, Rasuna menjadi nakhoda bagi majalah bernama Raya, majalah yang dicap radikal karena tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat. Rasuna juga menyebarluaskan gagasannya dengan mendirikan majalah mingguan Menara Poeteri di Medan. Lewat tulisannya yang tajam, ia membakar semangat perlawanan rakyat Sumatera.

Pasca kemerdekaan, perjuangannya tidak pernah surut. Ia terus mengabdi di parlemen hingga akhir hayatnya pada November 1965. Kini semangat sang Singa Betina tak hanya menjadi nama jalan, tapi menjadi ikon transformasi Jakarta sebagai kota global. Ia adalah pengingat bahwa suara perempuan adalah kekuatan, dan pendidikan adalah senjata untuk membebaskan bangsa dari keterbelakangan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)