Jakarta: Fenomena jatuh cinta ternyata melibatkan proses kimiawi dan neurologis yang kompleks di dalam otak manusia. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa perasaan ini memicu gejolak hormon dan perubahan aktivitas otak yang memengaruhi perilaku serta penilaian logis seseorang.
Gejolak Hormon dan Efek Obsesi
Proses
jatuh cinta memicu perubahan kadar hormon yang berbeda antara pria dan wanita karena perbedaan struktur otak dan jumlah testosteron awal. Pada pria, kadar testosteron cenderung menurun saat jatuh cinta, sementara pada wanita kadar hormon tersebut justru mengalami peningkatan.
Selain testosteron, terjadi perubahan signifikan pada hormon kebahagiaan dan stres sebagai berikut:
- Penurunan Serotonin: Dr. Marazziti dari Universitas Pisa menemukan bahwa kadar serotonin turun drastis hingga setara dengan pasien Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Kondisi ini menyebabkan seseorang menjadi obsesif, seperti terus-menerus mengecek pesan singkat atau memantau media sosial pasangan.
- Peningkatan Kortisol: Saat serotonin turun, otak memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Hormon ini memberikan energi tambahan yang membuat seseorang kuat beraktivitas, namun juga memicu kesulitan tidur dan penurunan nafsu makan.
- Penurunan Kecemasan: Meski kortisol naik, kecemasan justru menurun karena bagian amigdala otak tidak aktif. Hal ini membuat seseorang tetap merasa nyaman meskipun menemukan kejanggalan atau hal buruk pada pasangannya.
Kondisi hormonal tersebut menjelaskan mengapa individu yang sedang jatuh cinta sering kali merasa penuh energi sekaligus sangat terobsesi pada satu objek. Aktivitas amigdala yang non-aktif bertindak sebagai mekanisme yang mereduksi kewaspadaan terhadap ancaman atau perilaku aneh pasangan.
Penurunan Fungsi Logika dan Kognitif
Aktivitas otak saat
jatuh cinta juga berdampak pada kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan secara rasional. Peneliti dari University College London, Andreas Bartels dan Semir Zeki, mengungkapkan bahwa beberapa bagian otak yang mengatur penilaian kritis mengalami masa istirahat.
Berikut adalah dampak neurologis jatuh cinta terhadap kemampuan berpikir:
- Kehilangan Penilaian Logis: Bagian korteks prefrontal ventromedial otak menjadi non-aktif saat seseorang jatuh cinta. Akibatnya, individu kehilangan kemampuan untuk memberikan penilaian kritis dan logis terhadap orang yang mereka cintai.
- Penurunan Fungsi Kognitif: Penelitian dari Universitas Leiden, Belanda, menyebutkan bahwa jatuh cinta dapat mengganggu fungsi kognitif. Hal ini menghambat proses intelektual dalam menerima serta memahami sebuah ide atau informasi baru.
Meskipun fungsi otak mengalami penurunan logika dan penilaian kritis, mayoritas individu tetap memilih untuk merasakan
jatuh cinta. Gejolak pada amigdala dan korteks prefrontal tersebut dianggap sebagai bagian dari pengalaman emosional manusia yang umum terjadi.
Sobat MTVN Lens, secara ilmiah,
jatuh cinta memang menciptakan kondisi yang menyerupai gangguan fungsi otak sementara demi tujuan reproduksi dan kedekatan emosional. Namun, mekanisme ini tetap menjadi salah satu aspek kehidupan yang paling diminati untuk dialami berulang kali oleh manusia di seluruh dunia.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Daffa Yazid Fadhlan)