Kursi Menteri Keuangan resmi berganti setelah Presiden Prabowo Subianto mengangkat Suahasil Nazara untuk sisa masa jabatan periode 2024-2029, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Di balik penyegaran Kabinet Merah Putih ini, sederet tantangan berat telah menanti sang bendahara negara yang baru, mulai dari tekanan eksternal berupa beban impor BBM hingga isu domestik terkait Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Pengamat Ekonomi, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa Suahasil Nazara akan langsung dihadapkan pada situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Salah satu sorotan utamanya adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia.
"Dampak dari kenaikan harga minyak mentah ini akan sangat terasa pada postur fiskal kita, terutama terkait dengan membengkaknya biaya impor BBM. Hal ini menjadi PR yang sangat penting untuk segera diantisipasi oleh Menteri Keuangan sebagai pengelola kas negara," ujar Josua, dikutip dari Breaking News, Metro TV, Senin 14 September 2026.
Selain tekanan dari luar, tantangan dari dalam negeri juga tidak kalah pelik. Josua menyoroti tugas krusial Menkeu baru untuk menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi semakin rumit di tengah kebijakan PPN yang bersinggungan langsung dengan masyarakat.
"Ini bukan pekerjaan yang mudah bagi siapa pun Menteri Keuangannya, apalagi jika kita bicara di era PPN ini. Belanja pemerintah harus bisa lebih produktif agar memberikan dampak riil, khususnya untuk mendongkrak daya beli masyarakat yang belakangan ini kita rasakan cenderung mengalami penurunan," kata Josua.
Terkait sentimen pasar atas pergantian ini, Josua memprediksi investor domestik maupun asing mungkin akan terkejut di tahap awal. Namun, guncangan terhadap nilai tukar Rupiah dan IHSG diyakini akan relatif terbatas.
Hal ini tidak lepas dari fundamental ekonomi makro yang masih terjaga berkat kinerja positif Purbaya sebelumnya. Purbaya dinilai meninggalkan postur fiskal yang cukup aman, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi semester I/2026 di level 5,45%, inflasi yang terkendali, serta inisiatif Satgas Debottlenecking yang membantu kelancaran investasi.
"Selama kebijakan fiskal yang positif tetap dilanjutkan dan komunikasi kepada investor maupun pelaku industri terus ditingkatkan, kita berharap reshuffle ini akan menjadi penyempurnaan tim ekonomi presiden yang membawa dampak positif bagi perekonomian nasional ke depannya," ujarnya.