Ini Dia Pertanyaan DPR kepada Thomas Djiwandono saat Uji Kelayakan dan Kepatutan

26 January 2026 18:44

Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di hadapan Komisi XI DPR pada Senin, 26 Januari 2026. Para legislator menghujani Wamenkeu itu dengan pertanyaan terkait kebijakan bila Thomas ditetapkan menjadi Deputi Gubernur BI.

"Ada banyak harapan orang terhadap UMKM, terapi kredit untuk mereka terus turun, ketidakpercayaan terhadap mereka, kemudian proses yang juga  mereka tidak mampu dan sebagainya," tanya Anggota Komisi XI DPR Charles Meikyansyah dikutip dari Breaking News, Metro TV, Senin, 26 Januari 2026.

"Ini penting sekali ditunggu oleh masyarakat karena UMKM memiliki banyak harapan. Tetapi tantangan mereka untuk masuk ke kredit sangat besar," sambungnya.
 

 

Budaya Bekerja yang Berbeda

Selain itu, pertanyaan juga terlontar dari politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Anna Mu'awanah. Ia mempertanyakan bagaimana Thomas bekerja dengan budaya berbeda di otoritas moneter.

Sebelumnya, Anna mengapresiasi relisensi keuangan dengan lima strategi yang dicetuskan Thomas.

"Saya ingin sedikit tentang apresiasi. Ini relisensi keuangan ada lima strategi. Ini kompresif sekali. tadi sempat rekannya sebelumnya mengangkat soal UMKM ini ada di dalam sendiri, kemudian ada inovatif,
efisiensi dan stabil. Dan juga di dalam presentasi yang kedua penekanan kepada financial security," ujarnya.

"Pertanyaan saya, bapak biasa mengambil di sektor fiskal dengan budaya kerja yang berbeda. Kemudian nanti di BI misal terpilih dengan budaya yang berbeda lagi. Bagaimana Bapak menghadapi dua kultur budaya yang berbeda tersebut?" sambungnya.

Strategi Thomas Atasi Transasi Moneter Mandek


Sementara itu, Legislator PKS Muhammad Kholid menanyakan strategi yang dilakukan oleh Thomas dalam mengatasi penurunan suku bunga yang tidak bersamaan dengan penurunan suku bunga kredit.

"Ketika bank sentral menurunkan, tadi bapak sudah sampaikan, menurunkan suku bunga tidak diikuti dengan penurunan suku bunga kredit. Ada lagi di situ. Transmisi moneternya tertahan di situ sehingga tidak efektif kebijakan instrumen suku bunganya," ujarnya.

"Pertanyaannya adalah kenapa demikian dan bagaimana seharusnya bank sentral mengatasi kredibilitas instrumen suku bunga tersebut sehingga itu menjadi acuan yang kredibel?" kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Diva Rabiah)