Calon Deputi Gubernur BI. Foto: Tangkapan layar Metro TV.
Ini PR Penting Calon Deputi Gubernur BI yang 'Diincar' Thomas Djiwandono
Husen Miftahudin • 26 January 2026 16:58
Jakarta: Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi mengatakan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru nantinya akan langsung dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar, mulai dari menjaga stabilitas moneter hingga memulihkan kepercayaan pasar di tengah dinamika domestik yang sensitif.
Tantangan tersebut tidak ringan, terutama ketika pasar sedang mencermati proses pencalonan pimpinan bank sentral. Rahma menjelaskan tugas utama yang harus segera dituntaskan adalah menjaga stabilitas moneter. Hal ini termasuk mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus satu persen.
Kebijakan moneter, kata dia, harus tetap berorientasi pada stabilitas agar daya beli masyarakat dan kepercayaan pelaku usaha tetap terjaga. Selain inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian krusial.
"Menjaga nilai tukar rupiah yang stabil dan sesuai dengan fundamental ekonomi serta mengoptimalkan instrumen moneter pro-market, seperti SRBI, SVBI, dan SUVBI untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter," kata Rahma, dikutip dari Antara, Senin, 26 Januari 2026.
Dirinya juga menyoroti pentingnya komunikasi dan koordinasi kebijakan antara BI dan pemerintah. Sebab, sinergi yang kuat dinilai perlu untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) harus diperkuat untuk memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.
Tidak hanya itu, kebijakan makroprudensial juga perlu terus dioptimalkan agar sektor keuangan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas.
| Baca juga: Thomas Djiwandono Cetuskan Strategi 'GERAK' untuk Perkuat Pertumbuhan Ekonomi |

(Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani)
Posisi yang diincar Wamenkeu Thomas
Diketahui, Komisi XI DPR RI dijadwalkan mengumumkan hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Deputi Gubernur BI hari ini, Senin, 26 Januari 2026. Keputusan akan diambil melalui rapat internal setelah seluruh kandidat menyelesaikan tahapan uji kelayakan.
Dalam konteks terkini, Rahma mengakui memang ada sentimen negatif yang sempat muncul dari proses pencalonan jabatan deputi bank sentral itu. Munculnya nama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono dinilai turut memengaruhi pelemahan rupiah.
Pasalnya, tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari faktor domestik seperti persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan independensi bank sentral.
BI sebagai bank sentral, menurut dia, harus diisi oleh figur yang memiliki pemahaman mendalam tentang kebijakan moneter, sistem keuangan, dan ekonomi makro, serta mampu menjaga independensinya. Ia mengkhawatirkan pasar tidak akan merespons positif pencalonan tersebut yang pada akhirnya bisa membuat investor menjauh.
Maka dari itu, untuk menjaga stabilitas nilai tukar ke depan, Rahma menyarankan agar BI tetap mempertahankan suku bunga yang kompetitif guna menarik aliran modal asing. Di samping itu intervensi di pasar valuta asing (valas) dinilai tetap diperlukan untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
"BI dapat memperkuat kebijakan moneter yang pro-market, seperti melalui instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter dan menjaga stabilitas rupiah. Selain itu harus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor," tutur dia.