23 July 2026 13:43
20 tahun lalu, duka menyelimuti bumi Serambi Mekkah. Gelombang tsunami tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga mengancam masa depan satu generasi. Namun, dari puing-puing bencana itu, sebuah komitmen besar lahir: membangun kembali Aceh melalui pendidikan. Itulah awal mula berdirinya Sekolah Sukma Bangsa.
Hari ini, Kamis, 23 Juli 2026, sekolah Sukma Bangsa merayakan tasyakuran dua dekade perjalanannya. Bukan sekadar perayaan angka, momen ini menjadi refleksi mendalam tentang sebuah "Sekolah Kehidupan" yang konsisten merawat nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pidatonya dalam tayangan Headline News Metro TV, Kamis, 23 Juli 2026. Ketua Yayasan Sukma, Lestari Moerdijat, menekankan bahwa Sekolah Sukma Bangsa didirikan bukan hanya sebagai tempat mentransfer ilmu pengetahuan.
"Sekolah ini dibangun dari luka, duka, dan tangisan. Ini adalah sekolah kehidupan bagi kita semua," ungkap Lestari.
Ia mengenang pesan inisiasi, Surya Paloh, yang menegaskan bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk membangun kembali Aceh yang sempat kehilangan satu generasi akibat bencana.
Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menyebut Indonesia tidak akan pernah lengkap tanpa Aceh dan Papua. Nilai kebangsaan inilah yang ditanamkan kuat kepada setiap siswa, agar mereka bangga akan identitasnya namun tetap inklusif dalam keberagaman.
Tema dalam perayaan 20 tahun sekolah Sukma Bangsa ini adalah “Istikamah Merawat Kejujuran dan Kemanusiaan”. Rerie menyebut Istikamah bukan berarti menolak perubahan, tetapi justru tetap setia kepada nilai-nilai yang tidak boleh berubah yaitu kejujuran, belas kasih, keadilan, penghormatan terhadap manusia.
“Ketika sekolah Sukma Bangsa memasuki usia 20 tahun, kawan-kawan memilih tema 'Istikamah Merawat Kejujuran dan Kemanusiaan'. Istikamah bukan berarti menolak perubahan, tetapi justru tetap setia kepada nilai-nilai yang tidak boleh berubah: kejujuran, belas kasih, keadilan, penghormatan terhadap manusia,” ujar Rerie.
Kini, benih yang ditanam 20 tahun lalu telah berbuah manis. Alumni-alumni Sekolah Sukma Bangsa telah tersebar di berbagai belahan dunia. Tidak sedikit dari mereka yang kini menjadi pengajar di universitas-universitas ternama dunia dan menjadi pemimpin di berbagai bidang.
Mereka adalah bukti hidup bahwa pendidikan adalah tindakan optimisme. Sebuah investasi yang hasilnya mungkin tidak dinikmati seketika, namun mampu mengubah arah peradaban.
Bagi sekolah Sukma Bangsa, 20 tahun hanyalah awal. Dengan semangat yang tetap berkobar, sekolah ini berkomitmen untuk terus berdiri tegak selama Indonesia ada.
"Pendidikan bukan soal ijazah atau gedung yang megah, tapi soal mematangkan kemanusiaan," tutup Rerie dalam Perayaan Hari Ulang Tahun ke-20 Sekolah Sukma Bangsa di Aceh.
Melalui perayaan ini, sekolah Sukma Bangsa kembali mengingatkan kita semua bahwa dari luka yang paling dalam sekalipun, jika dirawat dengan kejujuran dan pendidikan yang tepat, akan lahir generasi tangguh yang siap menyinari dunia.