15 October 2026 19:03
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dilaporkan menyebar hingga ke Pulau Sumatra akibat terbawa pergerakan angin. Provinsi Riau, khususnya kawasan pesisir timur yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka serta Kota Pekanbaru, kini diselubungi asap sepanjang hari.
Kepala BMKG Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono mengonfirmasi bahwa polusi asap yang mengepung wilayah Riau berasal dari tiupan angin arah timur, tenggara, dan selatan.
"Asap masuk dari wilayah timur, bahkan dari Kalimantan pun masuk ke sini. Dari Kalimantan masuk ke sini, dari Sumatera Selatan juga ke sini. Jadi arahnya angin itu sekarang dari timur dan tenggara dan termasuk selatan. Jadi masih bercampur, sehingga di wilayah Riau ini justru asap ini dari Sumatra Selatan, Jambi, dari Kalimantan juga masuk ke wilayah," ujar Warjono dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 15 Oktober 2026.
Selain pasokan asap dari Kalimantan, kabut asap di Riau turut dipicu oleh tingginya aktivitas karhutla di Provinsi Sumatra Selatan dan Jambi. Meskipun jumlah titik panas (hotspot) di Riau hanya terdeteksi 4 titik, titik panas di Sumatra Selatan dan Jambi melonjak hingga mencapai 1.458 titik.
Penumpukan kabut asap lintas wilayah ini menyebabkan kualitas udara di sebagian besar Provinsi Riau merosot tajam hingga berstatus sangat tidak sehat.
"Sudah mencapai sangat tidak sehat, tapi baru-baru ya, artinya di siang ini, tapi kondisi ini mungkin bisa bertahan sampai berapa hari ke depan," tambah pihak BMKG.
Dampak dari memburuknya kualitas udara ini telah mengganggu berbagai sektor kehidupan warga setempat, mulai dari aktivitas pendidikan, operasional transportasi udara, hingga risiko kesehatan masyarakat.