2 February 2026 20:22
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan komitmennya untuk mengarahkan pembangunan ekonomi daerah mulai dari tingkat desa. Menurut Sultan, fondasi pertumbuhan ekonomi DIY secara keseluruhan sangat bergantung pada denyut nadi perekonomian di desa-desa.
Visi tersebut disampaikan Sultan di hadapan pengurus dan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Yogyakarta. Ia berharap, jika ekonomi desa tumbuh tinggi, maka ekonomi daerah akan terdongkrak secara optimal.
Namun, Raja Keraton Yogyakarta ini mengungkapkan tantangan besar dalam mewujudkan visi tersebut, yakni krisis sumber daya manusia (SDM) ahli di bidang spesifik. Sultan menyebut DIY mengalami kelangkaan pakar ekonomi mikro yang sangat dibutuhkan untuk penerapan strategi ekonomi pedesaan.
Baca Juga :
Hanya Ada Dua Pakar
Sultan menyoroti fakta mengejutkan bahwa di wilayah yang dikenal sebagai Kota Pelajar ini, jumlah pakar ekonomi mikro sangat minim. Padahal, pendekatan ekonomi makro dinilai kurang relevan untuk menyentuh akar permasalahan di tingkat desa.
"Nah, kami begitu ngomong desa aplikasinya, saya tidak butuh ekonomi makro, yang saya butuhkan ekonomi mikro. Tapi se-DIY hanya ada dua orang. Satunya dari (Universitas) Gajah Mada, satunya dari (Universitas) Sanata Dharma," ujar Sri Sultan HB X.
Selain ekonomi mikro, Sultan juga menyinggung ketiadaan pakar antropologi hukum di wilayah DIY. Keterbatasan para ahli spesifik ini menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang presisi untuk masyarakat tingkat bawah.