Jakarta: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan upaya membangun lingkungan yang inklusif bagi anak penyandang disabilitas harus dimulai dari keluarga. Menurutnya, penerimaan dan dukungan orang tua menjadi fondasi utama agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dalam wawancara eksklusif bersama Metrotvnews.com memperingati Hari Anak Nasional 2026, Arifah mengatakan setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, memiliki hak yang sama untuk memperoleh kasih sayang, kesempatan, serta akses terhadap berbagai layanan publik.
"Yang pertama kali membangun ekosistem adalah di keluarga dulu. Keluarga harus siap menerima kondisi anak apa pun keadaannya," ujar Arifah.
Ia mengakui proses menerima kondisi
anak berkebutuhan khusus bukan hal yang mudah bagi setiap keluarga. Namun, menurutnya, anak-anak tersebut merupakan anugerah yang membutuhkan perhatian dan pendekatan yang istimewa.
"Saya melihat ini keistimewaan dari Tuhan. Anak ini istimewa sehingga perlu pendekatan istimewa. Yang perlu dibangun pertama adalah kesadaran dari orang tua, siap dan tetap menyayangi apa pun kondisi anak," kata Arifah.
Selain keluarga, Arifah menyoroti masih adanya stigma dan stereotip negatif terhadap anak
penyandang disabilitas di masyarakat. Padahal, mereka memiliki hak yang sama untuk dihargai, mendapatkan kesempatan, dan mengakses berbagai fasilitas.
"Selama ini ada stereotip yang kurang baik terhadap anak-anak yang memiliki keistimewaan. Ini harus dibangun kesadaran bahwa mereka sama-sama harus dihargai, diberi kesempatan, dan diberi akses yang sama," ujar Arifah.
Menurut Arifah, pemerintah telah berupaya meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, seperti penyediaan jalur kursi roda di berbagai fasilitas umum. Namun, ia mengakui upaya tersebut masih perlu terus ditingkatkan agar benar-benar memenuhi kebutuhan seluruh kelompok disabilitas.
Masukan tersebut, kata Arifah, juga disampaikan dalam lokakarya Forum Anak Nasional yang menghasilkan Suara Anak Indonesia. Salah satu aspirasi yang muncul ialah masih terbatasnya fasilitas informasi yang ramah bagi penyandang disabilitas di bandara, terminal, maupun stasiun.
"Anak-anak menyampaikan, kalau ke bandara, terminal, atau stasiun, kadang suka ketinggalan kereta atau pesawat karena media informasi yang diberikan belum mencakup teman-teman disabilitas, misalnya yang tidak bisa mendengar," ungkap Arifah.
Arifah mengatakan persoalan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Perhubungan sebagai masukan untuk meningkatkan layanan transportasi yang lebih inklusif.
Ia menambahkan, pembangunan ekosistem yang ramah bagi anak disabilitas membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, hingga pemerintah. Salah satu langkah yang dinilai penting ialah memperbanyak tenaga pendidik yang memiliki kemampuan bahasa isyarat agar proses belajar mengajar semakin inklusif.
"Kuncinya ada di kolaborasi. Semua pihak harus terlibat. Di dunia pendidikan, misalnya, guru-guru dengan kemampuan bahasa isyarat juga perlu diperbanyak," tutur Arifah.
Ia berharap peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif. Dengan begitu, setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, dapat tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita tanpa menghadapi hambatan akses maupun diskriminasi.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.