Canggih! Museum di Madinah Ajak Pengunjung Selami Sejarah Rasulullah Lewat VR

9 June 2026 22:37

Kota Suci Madinah kini tidak hanya menawarkan wisata religi melalui Masjid Nabawi dan situs-situs bersejarah lainnya. Di dekat Gerbang 307 Masjid Nabawi, berdiri sebuah destinasi edukatif modern yang tengah menjadi sorotan jemaah haji dunia, yakni Museum Internasional Biografi Nabi dan Peradaban Islam.

Museum ini menghadirkan terobosan dalam pembelajaran sejarah Islam dengan memanfaatkan teknologi visual modern, mulai dari layar interaktif, replika 3 dimensi hingga teknologi Virtual Reality (VR) untuk mengajak pengunjung menyelami perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW secara lebih hidup.

Pengunjung yang datang akan dipandu untuk mengenal sosok Rasulullah secara mendalam. Pada bagian pertama, museum menampilkan silsilah keluarga, ciri fisik, pakaian hingga peralatan rumah tangga yang digunakan Nabi Muhammad SAW berdasarkan data dari Al-Qur'an dan hadis.

Sementara pada bagian kedua, pengunjung diajak menyaksikan gambaran Kota Madinah pada masa Rasulullah. Suasana Masjid Nabawi, permukiman penduduk hingga kamar Rasulullah divisualisasikan secara detail melalui teknologi digital.

"Pengunjung dapat belajar bersama tentang kehidupan Nabi Muhammad dan bagaimana Kota Madinah di masa Rasulullah," ujar laporan dari lokasi. Penggunaan layar interaktif memudahkan pengunjung dari berbagai usia untuk memahami konten yang disajikan secara visual dan menarik.
 

Baca juga: Keutamaan Salat Duha Menurut Hadis, Salah Satunya Mendatangkan Rezeki

Salah satu daya tarik utama yang memikat perhatian jemaah adalah ruang Virtual Reality. Melalui kacamata VR, pengunjung seolah-olah hadir langsung di masa kehidupan Rasulullah. Teknologi ini memvisualisasikan rekonstruksi detail kamar Rasulullah, mulai dari ukuran ruangan, bentuk atap, hingga lokasi makam beliau yang berdampingan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Selain itu, museum ini juga menampilkan gambaran detail pemukiman penduduk dan suasana Masjid Nabawi di masa lampau melalui replika tiga dimensi dan digital.

Museum yang berada di bawah naungan Liga Muslim Dunia ini sangat ramah bagi jemaah asal Indonesia. Tersedia pemandu yang fasih berbahasa Indonesia, sehingga memudahkan jemaah memahami penjelasan sejarah dan keteladanan akhlak Rasulullah secara lebih mendalam tanpa kendala bahasa.

Materi yang dipamerkan pun tidak sembarangan. Seluruh informasi disusun berdasarkan kajian mendalam para peneliti selama hampir dua dekade (20 tahun) menggunakan sumber-sumber otoritatif. Hal ini memastikan bahwa gambaran kehidupan Nabi yang disampaikan akurat secara sejarah namun tetap mudah dipahami oleh generasi masa kini.

Kehadiran museum ini diharapkan menjadi jembatan bagi umat Islam untuk tidak hanya mengenal sejarah secara tekstual, tetapi juga meneladani nilai-nilai kepemimpinan dan akhlak yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

(Anggie Meidyana)