14 May 2026 17:33
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berkunjung ke Beijing, Tiongkok untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping. KTT yang berlangsung selama tiga hari, yakni 13-15 Mei 2026 ini, menjadi sorotan dunia karena diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik, khususnya terkait konflik di Iran yang mengancam pasokan minyak dunia.
Salah satu agenda utama dalam pertemuan ini adalah perang di Iran yang telah mengganggu lalu lintas jalur perairan vital di Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui membawa sekitar seperlima dari total pasokan minyak global.
Sebelum bertolak ke Beijing, Trump sempat meremehkan peran potensial Tiongkok dalam mengakhiri konflik tersebut. Namun, setibanya di Tiongkok, Trump menunjukkan nada yang lebih optimis dan mengklaim bahwa kunjungannya akan membawa hasil positif terkait Iran. Ia mendesak Tiongkok untuk menggunakan pengaruhnya guna menghentikan perang dan membantu membuka kembali akses di wilayah terdampak.
Di sisi ekonomi dan kedaulatan, pengamat pasar veteran asal Hong Kong, Francis Lun, memprediksi Tiongkok kemungkinan besar akan meminta ketegasan Amerika Serikat untuk tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. Sebagai timbal baliknya, Tiongkok diprediksi akan menawarkan kesepakatan ekonomi yang menguntungkan bagi Amerika Serikat.
"Saya pikir yang diinginkan Tiongkok sebenarnya adalah pernyataan dari Trump yang secara tegas mengatakan AS tidak mendukung pemerintah Taiwan untuk memisahkan diri dari Tiongkok, dan tentu saja sebagai imbalannya, saya pikir Trump menginginkan Tiongkok untuk memesan 500 pesawat Boeing," ujar CEO Venturesmart Asia, Francis Lun, yang dikutip Breaking News pada Kamis 15 Mei 2026.
Baca juga:
Xi Jinping: Tiongkok dan AS Harus Jadi Mitra, Bukan Saingan |