Warga Palangka Raya Terkepung Asap Karhutla, 3 Bulan Tak Bisa Menikmati SInar Matahari

14 October 2026 18:32

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Pekatnya kabut asap tidak hanya membatasi jarak pandang hingga sekitar 100 meter, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi kesehatan dan kehidupan keluarga warga.

Bagi Susan, seorang warga Kota Palangka Raya, hidup di tengah kepungan asap yang tak kunjung usai menjadi masa-masa yang sangat melelahkan. Suara sirene mobil pemadam kebakaran terdengar hampir setiap hari dari pagi hingga malam di sekitar tempat tinggalnya.

Meski seluruh pintu, jendela, dan ventilasi rumah telah ditutup rapat, abu sisa kebakaran tetap masuk dan mengotori bagian dalam rumah. Warga bahkan sudah tiga bulan tidak dapat menikmati sinar matahari secara normal, dan pakaian yang dijemur di luar rumah langsung berbau asap.

"Kami merasakan sudah 3 bulan merasakan kabut yang luar biasa yang jarak pandangnya mungkin hanya 100 meter ya, tiap hari hampir bersamaan di mana-mana bunyi sirene pemadam kebakaran itu sudah tiap hari tiap saat,"tutur Susan dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu, 14 Oktober 2026.

Sebagai ibu rumah tangga, Susan mengaku dampak kabut asap membuat abu akibat kebakaran menempel di dalam rumahnya, termasuk di dalam dapur, meski pintu, jendela, dan ventilasi udara telah ditutup rapat. Bahkan menurut Susan, mereka sudah lama tidak dapat menikmati sinar matahari secara normal.

"Apalagi ini sudah 3 bulan dengan kondisi kami tidak pernah melihat matahari, jemur baju pun begitu bau asap. Bahkan kita sudah tutup pintu, sudah tutup jendela, yang ada ventilasi pun kita tutup, tetap aja itu bekas-bekas abu-abu itu memenuhi dapur," tambahnya.

Paparan kabut asap yang pekat memicu gangguan kesehatan pada masyarakat. Susan mengaku telah mengalami gejala sakit selama empat hari berturut-turut, seperti batuk, pilek, radang tenggorokan, demam, hingga kesulitan bernapas.
 


Di sektor pendidikan, anak-anak sekolah terpaksa beralih menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah. Menurut Susan, metode belajar daring dari rumah ini tidak efektif dan tidak maksimal dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka secara langsung.

"Akhir-akhir ini saya mengalami sakit. Ini sudah empat hari saya sakit, batuk, pilek, radang, dan demam juga. Anak-anak sekolah yang tadinya di sekolah jadinya PJJ dari rumah, dan saya rasa itu tidak efektif dan tidak maksimal sekali karena apapun ceritanya ya tetap bertatapan muka," ungkap Susan.

Aktivitas warga di luar rumah tetap berjalan bukan karena kondisi sudah aman, melainkan akibat keterpaksaan ekonomi. Warga harus terus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup harian keluarga di tengah kepungan asap.

Mewakili suara warga, Susan berharap pemerintah dapat meningkatkan upaya penanganan bencana karhutla ini secara lebih maksimal, termasuk membuka kesempatan bagi bantuan dari luar agar bencana asap dapat segera diatasi.

"Kalau mau bilang keadaan masyarakat masih normal melakukan aktivitas itu karena keadaan, karena keterpaksaan, karena kami harus butuh makan tiap hari harus bekerja. Tetapi saya minta kepada pemerintah tolong ditingkatkan lagi, kalau bisa bantuan dari luar atau bagaimana ya yang penting bisa [cepat berlalu]," tegas Susan.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X