Kepolisian Resor (Polres) Sukoharjo resmi mengembalikan sebagian besar barang sitaan milik Pondok Pesantren (Ponpes) Hamalatul Qur'an, Kecamatan Mojolaban. Pengembalian barang ini dilakukan menyusul operasi penggerebekan oleh personel gabungan Polda Jawa Tengah dan Polres Sukoharjo pada Selasa 27 Oktober 2026 lalu, yang ternyata menyisakan trauma psikologis mendalam bagi puluhan santriwati.
Proses penyerahan barang bukti dilakukan melalui kuasa hukum, perwakilan santri, serta pengurus ponpes setelah penyidik merampungkan pemilahan. Kapolres Sukoharjo, AKBP Andika Dharma Sena, menegaskan bahwa barang-barang yang tidak memiliki keterkaitan dengan materi penyidikan langsung dikembalikan secara utuh kepada pihak pesantren.
"Semua yang tidak terkait dengan pokok penyidikan sudah kita kembalikan bersama dalam kotaknya. Termasuk sepeda motor dan kotak berisi emas," jelas AKBP Andika, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin 2 November 2026.
Secara rinci, barang yang dikembalikan meliputi 17 unit ponsel, 3 unit sepeda motor, 1 unit CPU komputer, 1 unit drone, hingga perhiasan emas. Sementara itu, pihak kepolisian masih menahan 2 unit CCTV dan 1 unit ponsel untuk keperluan barang bukti agar proses hukum berjalan objektif.
Pendamping Ponpes Hamalatul Qur'an, Ustaz Endro Sudarsono, membenarkan proses pengembalian tersebut. Ia menyebut seluruh barang yang disita dari lokasi ponpes di Jenawi, Karanganyar dan Mojolaban, Sukoharjo telah diserahkan kembali, kecuali perangkat CCTV.
Santriwati Trauma Ditodong Senjata Laras Panjang
Di balik tertibnya prosedur hukum pengembalian barang, cara penindakan aparat dalam penggerebekan tersebut menuai sorotan. Pasalnya, operasi yang digelar pada pukul 03.00 WIB dini hari itu menyisakan ketakutan luar biasa bagi penghuni pondok yang mayoritas merupakan santriwati perempuan berusia 10 hingga 16 tahun.
Pengurus ponpes menuturkan bahwa puluhan aparat datang dengan persenjataan lengkap. Mereka mendobrak pintu utama hingga pintu kamar, serta menodongkan senjata laras panjang ke arah para santriwati yang kala itu tengah tertidur atau baru saja bersiap menunaikan salat Tahajud.
"Traumanya berlanjut sampai saat ini. Meskipun mereka sudah dipulangkan ke orang tua masing-masing, para santri menjadi sangat ketakutan untuk keluar rumah atau sekadar bertemu orang lain. Penggerebekan dini hari itu sangat menakutkan, apalagi mereka perempuan yang tiba-tiba ditodong dengan senjata laras panjang," ungkap Pengurus Ponpes Hamalatul Qur'an, Ustazah Diyanaindahsari.