Berakhirnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya musim penghujan tidak serta-merta membebaskan Indonesia dari risiko bencana. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi pergeseran ancaman dari bencana api menuju bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, akibat hilangnya tutupan vegetasi hutan.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia sekaligus perwakilan BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa rentetan pembakaran hutan telah menghilangkan fungsi alamiah lahan dalam menyerap air.
"Kebakaran memang menghilangkan vegetasi dan serasah, yang dapat mengurangi perlindungan permukaan tanah sehingga kelembapan itu hilang. Hal ini juga akan meningkatkan limpasan air hujan serta memperbesar risiko erosi dan sedimentasi sungai," jelas Daryono dalam dialog Primetime News, Metro TV, Selasa 27 Oktober 2026.
Daryono menegaskan bahwa kondisi lahan yang rusak ini harus menjadi perhatian utama, terutama mengingat curah hujan akan meningkat tajam pada bulan-bulan mendatang.
"Pesan penting yang kami sampaikan bahwa kita menghadapi masa peralihan risiko dari ancaman kebakaran pada akhir kemarau menuju potensi banjir dan longsor pada musim hujan ini akan semakin aktif. Setelah kebakaran, ancaman dapat bergeser dari api menjadi banjir, erosi, dan longsor," tegasnya.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik berlebihan terkait fenomena mundurnya musim hujan tahun ini. Daryono menepis anggapan bahwa keterlambatan hujan akibat El Nino pasti akan memicu badai ekstrem.
"Musim hujan yang terlambat tidak berarti hujan berikutnya pasti lebih ekstrem, tidak begitu. Risiko banjir ditentukan oleh intensitas hujan, kondisi daerah aliran sungai, dan kemampuan lahan dalam menyerap serta mengalirkan air," jelas Daryono.
Guna mencegah siklus bencana yang berulang, prioritas mitigasi hidrometeorologi harus segera dilakukan. Langkah tersebut meliputi pemetaan daerah bekas kebakaran yang rawan banjir, pembersihan saluran air dari sumbatan material, pengendalian erosi, hingga pembasahan kembali dan pengelolaan kanal secara hati-hati di kawasan gambut.