Hampir Sebulan Pascagempa, Warga Marapokot Masih Bertahan di Tenda

12 September 2026 17:17

Nagekeo: Hampir sebulan pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, sebanyak 17 kepala keluarga (KK) dari Desa Marapokot masih bertahan di tenda pengungsian mandiri. Mereka memilih menetap di halaman Masjid Raya Baiturrahman Nagekeo karena masih trauma kembali ke rumah yang terdampak gempa dan gelombang tinggi.

Warga Desa Marapokot yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan masih memilih tinggal di tenda yang dibangun secara mandiri menggunakan terpal dan tali seadanya.

“17 KK dari Desa Maropokot ini masih memilih untuk menetap sementara di halaman Masjid Raya Baiturrahman Nagekeo dengan membangun tenda secara mandiri. Mereka mengatakan mereka masih takut dan trauma untuk kembali ke rumah mereka masing-masing karena rumah mereka ini terdampak cukup parah karena adanya gelombang luapan air tsunami di pesisir laut Marapokot,” ujar Jurnalis Metro TV Ajeng Putri dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Sabtu 12 September 2026.

Menurut Ajeng, sebagian warga sebelumnya masih kembali ke rumah pada pagi hingga siang atau sore hari untuk beraktivitas. Namun, gelombang tinggi kembali menghantam pesisir Marapokot dan menjangkau rumah-rumah warga. Kondisi tersebut membuat warga kembali trauma, ditambah gempa susulan yang masih sering terjadi.

“Ketika mereka kembali ke sana, gelombang tinggi ini menghantam kembali pesisir pantai Marapokot yang mengenai atau menjangkau rumah-rumah mereka, sehingga mereka merasa trauma karena gempa susulan juga masih sering terjadi di sini,” katanya.

Di tenda pengungsian mandiri, warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian, serta memindahkan barang-barang yang masih dapat diselamatkan dari rumah mereka.

Sementara sebagian besar pengungsi lainnya telah kembali ke rumah, mereka juga belum sepenuhnya berani beraktivitas di dalam bangunan. Warga memilih mendirikan tenda di halaman rumah dan memindahkan kebutuhan sehari-hari seperti kasur, kompor, dan dispenser ke tempat tersebut.

Ajeng menjelaskan warga masih khawatir meski rumah hanya mengalami kerusakan ringan.

“Meskipun kerusakannya ringan, seperti misalnya ada keretakan tembok atau plafon yang jatuh, mereka mengaku belum berani untuk beraktivitas di dalam rumah karena gempa susulan masih banyak terjadi di sini,” ujar Ajeng.

Berdasarkan pembaruan BMKG yang disampaikan dalam laporan, hingga pukul 06.00 WITA gempa susulan di Flores telah mencapai lebih dari 14.800 kali dengan magnitudo terbesar 6,2.

“Warga ini masih merasa sangat trauma dan takut, dan mereka memilih untuk mencari tempat-tempat yang aman seperti tenda-tenda untuk beraktivitas sehari-hari,” kata Ajeng.

Aktivitas masyarakat di sejumlah bangunan publik juga masih dilakukan di dalam tenda. Kegiatan belajar mengajar di salah satu TK di sekitar lokasi, misalnya, masih berlangsung di tenda besar karena warga belum berani melakukan banyak aktivitas di dalam ruangan.

Kondisi tersebut membuat tenda mandiri masih menjadi pilihan warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus mencari rasa aman dari ancaman gempa susulan dan gelombang tinggi.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X