Ribuan Dokumen Warga Nagekeo Rusak dan Hilang Akibat Gempa

12 September 2026 12:03

Nagekeo: Ribuan dokumen kependudukan warga Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), rusak dan hilang akibat gempa bumi yang disusul tsunami pada 15 Agustus lalu. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Nagekeo pun menggencarkan layanan jemput bola ke posko-posko pengungsian untuk mempercepat penerbitan kembali dokumen warga terdampak.

Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Marapokot. Luapan air laut yang masuk ke rumah warga merusak berbagai dokumen, mulai dari kartu keluarga, ijazah, buku nikah, sertifikat, hingga dokumen kendaraan seperti STNK dan BPKB.

Sebagian warga berupaya menyelamatkan dokumen yang masih bisa ditemukan setelah air surut. Berkas yang basah kemudian dijemur di bawah sinar matahari agar dapat dikeringkan.

Salah seorang warga Desa Marapokot, Afridah, mengatakan sejumlah dokumen penting miliknya terdampak tsunami, termasuk ijazah, kartu keluarga, dan surat keputusan milik suaminya.

"Dokumen yang terdampak di dalam sini ada ijazah, ada kartu keluarga, ada SK suami juga ada di dalam sini," ujar Afridah dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 12 September 2026.

Ia mengatakan seluruh dokumen tersebut sempat basah akibat terendam air. Setelah air surut, ia bersama keluarga masuk ke rumah untuk mengambil berkas dan menjemurnya.

"Alhamdulillah setelah airnya surut, kami masuk ambil lagi dan setelah itu kami jemur seharian," katanya.

Tidak semua dokumen warga berhasil diselamatkan. Warga lainnya, Adi Buton, mengaku kehilangan STNK dan BPKB kendaraan saat luapan air menerjang rumah.

"Tidak sempat. Kita cuma pakaian di badan saya lari waktu itu. Tapi yang lain masih ada, tapi cuma STNK, BPKB motor yang hilang, itu saja," katanya.

Sementara itu, warga lainnya, Susanti mengatakan sejumlah dokumen milik keluarganya turut terendam, termasuk sertifikat, kartu keluarga, ijazah anak-anak, dan buku nikah.

"Mulai dari sertifikat, kartu keluarga, ini surat-surat anak-anak punya ijazah, nah itu tidak diselamatkan," kata Susanti.

Meski Dukcapil telah menyediakan layanan untuk membantu penerbitan kembali dokumen yang hilang atau rusak, Susanti mengaku belum sempat mengurusnya. Kondisi pascabencana membuat keluarga masih berfokus pada pemulihan.

"Karena kita masih belum ada waktu nih mau ke kantor, masih belum terpikir. Iya belum terpikir dengan keadaan seperti ini," ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Dukcapil Nagekeo memberikan kemudahan melalui pelayanan langsung ke posko-posko pengungsian. Plt Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Nagekeo, Oscar Yosep Amekae Sina, mengatakan pelayanan administrasi kependudukan baru dapat dilakukan satu minggu setelah gempa karena sejumlah pegawai Dukcapil turut menjadi korban.

"Kami lakukan setelah satu minggu. Jadi pegawai Dukcapil ini ada yang menjadi korban, sehingga untuk pelayanan Dukcapil sendiri untuk administrasi kependudukan itu baru kita laksanakan satu minggu setelah gempa," ujar Oscar.

Petugas kemudian mendatangi setiap posko pengungsian. Sebelum pelayanan dilakukan, Dukcapil mengumumkan jadwal pelayanan sehari sebelumnya sekaligus menyisir data warga yang membutuhkan pencetakan dokumen kependudukan.

Hingga Senin sebelum wawancara tersebut, Dukcapil Nagekeo mencatat 756 layanan khusus melalui sistem jemput bola di posko pengungsian. Sementara pelayanan di kantor tetap berjalan setiap hari dengan jumlah sekitar 1.321 layanan.

"Total layanan selama masa tanggap darurat ini yaitu 2.140 layanan," kata Oscar.

Layanan tersebut mencakup penerbitan kembali sejumlah dokumen kependudukan, seperti Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), akta kelahiran, akta perkawinan, akta kematian, hingga surat pindah.

Pelayanan jemput bola dilakukan untuk memudahkan warga terdampak mendapatkan kembali dokumen kependudukan yang hilang atau rusak, terutama selama masa tanggap darurat.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X