Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak hanya merusak rumah dan fasilitas warga. Bencana ini juga membuat stok air bersih menjadi langka.
Kebutuhan air bersih yang semakin mendesak mendorong Wilhelmus Raga untuk menjadi penyedia jasa pengantar air bersih untuk warga yang masih bertahan di pesisir.
"Tidak pandang dia siapa dia siapa. Intinya kita apa yang saya bisa itu yang saya lakukan," ujar Wilhelmus, dalam program Primetime News Metro TV, Sabtu, 5 September 2026.
Setiap pagi, Wilhelmus mengisi air bersih ke tangki berkapasitas 5.000 liter, di Kota Mbay, sebelum melaju menuju ke desa-desa pesisir yang terdampak gempa. Sekitar 12 km harus ditempuh Wilhelmus melewati persawahan, rumah-rumah yang rusak, hingga kawasan yang masih menyisakan trauma bencana.
Tujuannya adalah desa Marapokot dan Nangadhero, wilayah yang terdampak parah bencana gempa, di mana sejumlah warganya mulai memberanikan diri kembali ke rumah.
Namun, kepulangan itu membawa persoalan baru, yaitu sulitnya air bersih karena sumber air belum sepenuhnya pulih pascagempa.
"Kendala pertama mungkin jarak lokasi air bersihnya dengan droppingnya. Karena memang cuma satu titik saja yang ada di kota kabupaten. Apabila mau antar ke desa-desa, kan jarak cukup jauh juga. Jadi mungkin kebutuhan masyarakat juga tidak terpenuhi semua begitu," katanya.
Widiyanti menjadi salah satu warga yang menanti kedatangan Wilhelmus. Air bersih kemudian dialirkan Wilhelmus ke bak-bak penampungan warga, satu demi satu.
Bagi Widiyanti, air bersih yang datang menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya. Sebab, sebelumnya ia harus mengeluarkan uang hingga Rp50 ribu untuk membeli air.
"Jadi kami sangat berterima kasih untuk pemerintah karena hari ini kami sudah dapat air bersih lah nya untuk bisa masak, bisa mandi," kata Widiyanti.
Wilhelmus kembali melanjutkan perjalanannya mengantarkan air bersih. Dalam sehari, sekitar delapan tangki diantarkannya ke warga.
Jarak yang jauh, rasa lelah, hingga ketakutan akan gempa susulan harus dilawannya. Sebab dia tahu persis bagaimana rasanya menjadi korban bencana.
"Sering terjadi. Kadang ketika sementara menunggu pengisian air, lagi duduk menunggu, di situlah terjadi gempa," ungkap Wilhelmus.
Hingga saat ini, lima armada tangki masih beroperasi mendistribusikan air bersih secara gratis. Sementara itu, sekitar 50 tangki berkapasitas 5.000 liter telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak.
Bagi warga Nagekeo pascagempa, air bersih yang dibawa Wilhelmus adalah bagian dari rasa aman untuk kembali menjalani kehidupan. Karena bagi mereka, air bersih menjadi tanda bahwa kehidupan bisa terus berjalan.